Rasanya semuanya menjadi tak jelas. Mata berkunang-kunang. Nafas seperti sekali dengusan saja yang sesekali singgah tersendat tak beraturan. Energiku habis terkuras demi hanya untuk memfokuskan dan mengerahkan semua tenagaku ke pusat Otot Spinkter Rectum, di kedalaman perutku agar semuanya manjadi terkendali dan tidak membuatku malu dan menjadi bahan tertawaan semua orang di dalam kotak besi berjalan itu hanya karna aku tak kuat menahan SESUATU.
"Masa iya aku harus e'e di celana?" Bisiku menguatkan hati di tengah kepanikan yang teramat sangat.
"Dan,,Oouuff...kenapa mobil ini seperti sangat lamban sekali untuk sampai dan masuk keterminal bus kota terdekat?" (padahal saat itu Bus yang ku tumpangi sedang berkecepatan kurang lebih 110km/jam,di atas Tol Jakarta Merak) "Setidaknya agar aku lekas menemukan WC umum, dan aku bisa untuk segera,,,Heghk,,,segera,,Heeeegggkkk,,"
Aku gelisah luar biasa. Serba salah malah jadinya. Duduk miring salah, berdiri salah, Jongkok malah tambah salah. Sedikit duduk dengan posisi tertentu agar lobang SAKTI-ku itu sedikit rapat tertutup-pun masih jua tak banyak membantu. Aku bingung, sangat bingung. Wajahku sudah pucat pasi menahan sakit karna mules yang tak kenal kompromi. Keringat dingin sebesar-besar biji jagung-pun sudah mengalir deras dari keningku tiada terbendung.
"Berapa lama lagi kita akan sampai ke terminal bang?" Tanyaku pada kondektur yang sebentar-sebentar lewat lagi di sampingku. Tapi kali ini dia tidak menghiraukan pertanyaanku lagi yang entah sudah berapa kali ku ulang selalu pertanyaan yang sama itu (Aku yakin dia marah padaku). dan sejujurnya, akupun tidak mengharapakan jawaban dari si abang kondektur tadi karna akupun tau untuk sampai ke terminal terdekat masih membutuhkan waktu sekitar 30 menit lagi. Sebenarnya aku hanya ingin mendapat jawaban pelipur dari si abang kondektur itu-yang entah kenapa, tiba-tiba melihat wajahnya aku jadi semakin merasa jengkel saja. Itu artinya, masih 30 menit lagi aku harus berjuang mati-matian menahan rasa ingin ITU agar si ANU tidak nylonong keluar seenaknya dan membuat geger seisi Bus antar kota itu karna aroma yang pastinya sangat khas, dan....
"Ooohhh..Tolong kuatkan-lah imanku ya TUHAN...!"
"Oouuugghhhhfffff.....!!"
"Tolong lebih cepat sedikit lagi-lah pak sopir...!"
"kdfvhakdufadfjdfkdifdsfvadad...!!"
"Tolong hiburlah aku dengan sekilas cerita-cerita romantis agar aku lupa dengan rasa ingin ANU itu-lah Bang kondektur...!"
"OuhhgaadfjksdjSkfhizdfjodf/kzdspfiszdofuzpdofizdopfz...!!"
Mungkin itulah beberapa ratapan sedih-ku di deretan jok agak ke belakang di dalam Bus antar kota, siang itu. Sementara Bus antar kota itu melaju dengan kencang tanpa, ba,,bi,,bu,,ba,,bi,,bu,, sementara itu pula di kursi belakang aku hanya bisa : "Heegkk,,, Eeehhgghh,, Aaoouuhgg,,, Oouufff,, Oh my good, Aku suadah tidak tahaannn,,Ouuugghhffff,,,, kapan mobil sialan ini akan segera samapaiiii di,,,???..Ceezz,,,uppzz,,,Ohh,,,ada yang terasa mengalir lembut dan basah di celana belakangku.." dan segala daya dan upaya perjuanganku untuk menahan SESUATU ITU agar semuanya tidak menjadi melapetaka yang pasti akan sangat memalukan aku nantinya.
Tiga puluh menit yang mencekam berselang.
Waktu yang ku tunggu-tunggu itu akhirnyapun datang. Si abang kondektur yang wajahnya tadi sempat tiba-tiba menjadi menjengkelkan, kini tiba-tiba berubah menjadi dewa pahlawan penyelamat hidupku. Dia (sang pahlawanku), dengan suaranya yang sombreng kaya kaleng, dengan sedikit malas-malasan meneriakan kalimat yang sangat ku nanti-nantikan.
"Pakupatan habis,,, Pakupatan habiiiis..!"
"Yaaa,,, yang mau ke serang,,, Banten,, Pande gelang habissss...!"
"Pakupatan habis,,, Pakupatan habiiiis..!"
Segera saja aku langsung meringsek maju ke deretan paling depan menerobos bejubelnya penumpang di depan pintu Bus itu tanpa ku hiraukan gerutuan mereka, yang juga sama-sama ingin mendapat posisi pertama untuk turun segera dari mobil itu.
"Tentunya kalian tidak ingin Bus ini ku buat geger dengan aroma e'e-ku yang tentunya akan berdampak sangat dahsyat, bukan? maka segeralah kalian memberiku prioritas istimewa dangan mempersilahkan aku untuk berdiri di urutan pertama di depan pintu BUs sialan yang lamban ini!"
Begitulah kalimat pembelaan dalam hatiku yang membuat aku tidak harus ambil pusing dengan gerutuan mereka karna ulah aroganku. Begitu laju mobil melamban dan pintu mobil terbuka, langsung saja aku meloncat turun dan tak ku toleh sedikitpun para calo yang sudah menghadang di depan pintu bus itu demi bisa mendapat satu penumpang.
"kemana mas?"
"WC umum..!" Jawabku singkat dan sekenanya setelah satu di antara calo tersebut sempat ada yang menarik tanganku dan menanyakan kemana arah tujuanku.
WC umum telah ku lihat semenjak aku masih di atas Bus tadi. Tepat di pojok utara di samping masjid terminal pakupatan. Meski tidak berlari, namun juga langkahku tidak bisa di sebut sebagai berjalan. Katakanlah langkahku itu adalah sedikit berlari dan sedikit kencang berjalan. Sulit untuk menentukan langkah yang tepat dalam situasi saat itu. Keadanya memang benar-benar sungguh sulit bagiku. Ingin berlari, tapi takut bendungan lunak di ujung tulang ekorku menjadi jebol dan memabanjiri selangkanganku. Sementara ingin wajar berjalan, bendungan lunak istimewa-ku itupun tetap semakin kuat tekanannya. Jadi akhirnya, kuputuskan saja yang paling tepat saat itu adalah ; Sedikit berlari dan sedikit kencang berjalan. Meski saat aku melakukan itu, aku harus rela menahan malu karna menjadi perhatian banyak orang sepanjang lorong menuju WC umum, yang merasa heran karna melihatkau berjalan dengan kedua kaki yang sebentar-sebantar ku rapatkan.(mungkin yang ada di benak mereka, aku seperti seorang Model yang sedang berjalan di atas Catwalk, yang sedang memperagakan gaun musim semi. Atau malah aku tak ubahnya seperti seseorang yang sedang terkena penyakit Step. Entahlah). Sungguh menyedihkan.
Namun, terlepas dari apapun penilaian yang aku dapatkan dari mereka, selangkah demi selangkah susah yang aku lakukan, akhirnya sampai jugalah aku ke depan pintu gerbang bangunan kumuh dan basah itu, yang, bagiku tak ada tempat lain di dunia ini yang ku nginkan selain tempat itu. "INILAH ISTANAKU,," batinku dalam puncak kepuasan dan kebahagiaan..!
WC UMUM TERMINAL PAKUPATAN NAN MANDIRI--->
BUANG AIR KECIL = Rp.1000
BUANG AIR BESAR = Rp.1500
Ooww,, sederet kalimat mempesona yang ku temukan di depan gerbang masuk WC UMUM itu, dan yang lebih menandakan bahwa aku telah menemukan tempat yang sangat tepat. Tentu saja, Rasa tidak sabar dan rasa bahagiaku semakin memacu cepat langkah kakiku untuk segera menemukan ruangan kecil berukuran 1X2m yang akan menjadi tempat berakhirnya segala penderitaanku.
Akan tetapi,,,"Oooowww.... tidaaaaakkk..." Rasa kecewa yang teramat sangat langsung mengoyak-ngoyak kebahagiaanku setelah aku mendapati bahwa ruangan berukuran 1x2m itupun telah penuh terisi. AKU HARUS MENGANTRIII..!!!!!!
"Brengsek,, Damn,, sial,, Ayolaah,, pliiss,,tolong bisa lebih sedikit cepat lagiii,, sumpah saya sudah tidak tahan lagiiiii..."
Tidak ada jawaban dari seseorang yang ada di dalam bilik WC umum itu.
"Tolonglah Mas,, Mbak,, Pak,, Buu,, bisa lebih cepat sedikiittt...?!"
kali ini suaraku sungguh meratap dan memelas, plus dengan sedikit ketukan agak keras di pintu bilik WC umum itu. TIdak ada jawaban dari dalam, tapi justru malah seorang ibu paruh baya yang sedari tadi juga berdiri di sampingku yang menjawab dengan suara yang juga memelas ;
"Ibu juga sedang mengantri dari tadi Nak..!"
"Ouuufff,,,Ibu,,,bisa saya dulu yang masuk Buu, saya sudah tidak tahan" ratap iba-ku kepada Ibu itu.
"Ibu juga sudah tidak tahan Nak..!"
"Saya yang duluanlah ya Bu,, saya bayarin deh,,ya ya ya ya..!"
Semakin menjadi saja ratapan memelasku.
"Tapi tetap harus mengantri Nak..!"
"akdshfvaidfuadifuadfWFsdfadfaoooofffffff...."
Amarah dalam hatiku pecah juga akhirnya. Bagaimana tidak ? Mengantri di sebuah loket pembelian tiket bioskop atau tiket pesawat meski semahal apapun itu, mungkin masih bisa sedikit bersabar dengan bersenandung lirih untuk menghibur diri sendiri agar tidak terpancing emosi. Tapi tidak untuk mengantri di sebuah WC umum yang harga tiketnya hanya seharga seribu atau cengggo. Ini urusan lain dan ini bukan perkara harga. Ini adalah urusan hajat yang bahkan seorang presiden atapaun Pak tukang pulung-pun akan berjuang mati-matian demi untuk mendapat kesempatan pertama agar bisa segera masuk ke dalam Ruangan berukuran 1x2m itu, dan pastinya agar segera lekas berakhir segala penderitaan yang mengoyak di bagian perut bagian bawah kita tersebut. Jadi, siapa yang akan rela mengantri terlalu lama jika si TAMU terhormat kita itu sudah di ujung bendungan yang kian tak terbendung..?
TAK TIK TUK,,,TAK TIK TUK,,, menyaksikan detik yang mencekam berlalu, detik selanjutnya pintu bilik WC UMUM itupun terbuka dengan malasnya.
"Krekeetttt..." dan munculah seorang bocah usia belasan tahun yang keluar dengan ekspresi wajah yang lurus-lurus saja tanpa merasa bersalah. Atau, setidaknya, menunjukan sikap TAU bahwa dia sudah di tunggu-tunggu dua orang manusia yang sedari tadi juga sangat menderita karna berjuang ingin mendapatkan tiket pertama setelah dia, untuk segera merdeka dari rasa mules yang meremas perut tiada terkira.
"Sialan lu bocah,, lama banget lu b-o-k-i-r-nye,, kagak tau Lu, ni bilik juga lagi di antri'in?" Sedikit bentakku kepada anak kecil itu meski Nalarnya (mungkin) belumlah mencapai pamahaman seprti yang ku maksudkan. dan terbukti diapun pergi begitu saja tanpa menghiraukan gerutuku. "Sial..!"
Sejenak melampiaskan kemarahan-ku kepada bocah belasana itu, yang, akupun menyadari bahwa aku tidak memilki alasan yang kuat untukku melakukan kemarahan itu terhadapnya, pintu bilik WC UMUM itupun terdengar lagi, tapi kali ini dengan suara yang lebih terdengar cepat dan mengesankan keburu-buruan.
"Kreett,, Brak,, brak,, kresek kresk,,, brooottt,, broboot,, boooott.. Ougghhh.." Si Ibu paruh baya tadi, Si Ibu tadi rupanya diam-diam langsung masuk tanpa permisi dulu kepadaku. Di dalam sana Dia tengah melepas segala derita Cepir*t yang sama-sama kami rasakan tadi semasih mengantri disini bersamaku. dan SUARA Broboott ITU, Ouuwwhh,, suara itu mengirimkan sugesti tak berbendung yang merangsang Otot Spinkter Rectum-ku menjadi melemah dan mengalami kekacauan untuk mengontrol pintu bendungan lunak di ujung tulang ekorku. Tidaaakkk,,, ada yang semakin basah di belakang celanaku. "Ceezzz,,, cret,,, cret,,..Ceeeezzzz..tidaaaaakkkkk..!!"
TOK TOk TOK TOK TOK...
"Bisa tolong cepat sedikit Buu,, saya sudah tidak tahaaann..."
Gedorku mengharap belas kasihan Si Ibu agar Ia mau sedikit berbaik hati membagi sedetik waktu saja untuk memberiku kesempatan untuk ANU..(Tapi mana mungkin..?)
"Sebentar.." Jawabnya lemah..
Mungkin aku masih bisa bersabar, tapi hanya kuat beberapa detik saja.
DOR DOR DOR DOR DOR...!!!
"Buuuu....???"
"Sebentaaaaaarrrr...!!" Dia mulai terganggu..
Aku makin blingsatan. Berdiri tak bisa tegak. Sedikit nugging dan bersandar di dinding makin merinding.
"Tolong saya buu...ayo buu..." Ratapanku semakin memalukan..
BRAAKK...!!
"Sebentaaaaaaarrr..." Kali ini si Ibupun benar-benar marah atas tindakan tidak sabarku yang sudah mulai mengganggu. Sudah pasti. Salah satu yang paling menjegkelkan di dunia ini ketika kita sedang berkegiatan, adalah saat kita harus di suruh cepat-cepat saat kita tengah berhajat. Tidak juga si Ibu paruh baya yang sedang berada di dalam bilik rebutan kami itu, akupun mungkin malah akan bertindak lebih kejam lagi. (mungkin aku malah akan menyiram seseorang itu yang mengangguku ketika aku sedang berhajat)
Tapi detik berlanjut,, aku sudah tidak bisa menunggu labih lama lagih. Aku lebih mengencangkan lagi gedoranku di pintu bilik idola itu. AKu sudah tidak peduli tindakanku itu menjadi perhatian orang-orang yang mulai memprhatikanku. dan aku sudah tidak menghiraukan lagi bentakkan-bentakkan Si Ibu dari balik bilik WC UMUM itu. Aku semakin menjadi meratapnya. katakanlah aku sudah mulai memaksa agar Si ibu lekas keluar dan saatnya membiarkan aku masuk ke dalam bilik itu. Ku tempelkan keningku di daun pintu sambil badan sedikit nungging. Kedua kaki kurapatkan serapat-rapatnya agar juga ikut rapat Lobang (Bodoh-ku) itu. Tangan ku gedor-gedorkan di daun pintu sambil terus melolong-lolong meminta Si Ibu untuk segera keluar.
"Cepetan Ibuuu,,,saya sudah tidak tahaaaaaann..."
Dor Dor Dor Dor Dor Dor...!!
"Aduh Buuu...secepetan Buuu...saya mohoooon,,,,"
Wajahku semakin memucat. Sungguh ini derita di atas deritaku. AKu semakin melolong-lolong memohon kebaikan Si Ibu yang tiba-tiba juga bernasib sama dengan Si Abang Kondektur Bus tadi ; sama-sama menjadi menjengkelkan.
"Iyaaaa,,,Iyaaaaaa,, Brengs*kkkkk...!" Kemarahan Si Ibu naas itu akhirnya berbuah amarah dan umpatan yang, saat dalam kondisi normal mungkin tidak akan ku biarkan. Tapi tidak untukku saat dan dalam kondisi seperti saat itu ; bagaimana cara Si Ibu agar lekas keluar dari WC umum itu adalah hal yang terpneting bagiku. maka dari itu, tindakan menggedor-gedor dan meratap di depan pintu itu adalah hal yang paling tepat dan yang harus aku lakukan. dan ternyta benar, meski dengan segunung kejengkelan di hatinya (dan aku sungguh tidak peduli), meski terdengar sayup, dari balik bilik WC umum itu, perlahan-lahan aku mendengar perpaduan suara antara Air dan telapak tangan yang (seprtinya) tengah di bentur-benturkan dengan lembut ke salah satu bagian tubuh Si Ibu sehingga menimbulkan suara yang sangat khas, sangat aku kenali.
"Piyokk,, piyokk,, piyokk,,piyokk.." Sangat berirama teratur dan berdurasi tidak terlalu lama, juga tidak sebentar pula. Ini kabar gembira untukku, karna itu tandanya beberapa detik lagi Si Ibu akan segera keluar dan akan segeralah berakhir derita pertahanku menahan serangan Tinja lembek yang sudah semakin kian ke ujung tak terbendung di ambang bendungan-ku. (Sukurlah)
Demi untuk memastikan, ku ulang lagi gedoran dan ratapanku di daun pintu itu.
"Buuu,,,secepatann Buuu,,,," Dan,,
Kreeekeeeeekkk... Keluarlah wajah ramah yang sempat ku ke kenali bebera menit tadi sewaktu kami sama-sama mengantri, tapi saat itu telah berubah menjadi wajah tak bersahabat dan penuh kebencian menatapku.
"Dasar anak gila tidak tau sopan santun dan aturan" makinya sebelum sempat melangkahkan kakinya di ambang pintu itu. Aku tidak memperdulikan makiannya. AKu langsung saja menorobos masuk sehigga kamipun saling berhimpitan di sempitnya pintu WC umum itu. Melihat aksiku yang kian menggila (baginya), Si Ibu makin teriak-teriak ketakutan.
"cepetan Ibu keluar, karna saya sudah tidak tahaaaann..." Prepett...preettt...preeetttt,,,preeeeeeeeeeeeeeeetttttttt,,,brobooot,,,brobooottt...boot,,,bbroooooottttt.....
"Gila,, gila,, gila,, dasar anak gilaaaaaaaaaa..." teriak si ibu yang sama sekali tidak mengerti betapa aku sudah sangat menderita menahan cepir*t yang sudah kutanggung beberapa jam termulai semenjak aku masih di atas Tol, hingga sampai ke ambang bilik WC umum yang tadi sempat kami perebutkan, yang juga pada akhirnyapun aku harus tetap e'e di celana. Bahkan tepat di satu langkah terakhir aku membuang hajat di tempat yang memang di anjurkan oleh Etika, yaitu ; BERBUANGLAH HAJAT DI TEMPAT YANG SUDAH TERSEDIA KARNA KAMU ADALAH MANUSIA..! Sungguh hari yang menyedihkan..!
Dan di dalam WC umum itu, aku bingung dengan persaanku sendiri. AKu benar-benar tidak tau apa yang aku rasakan saat itu. mungkin sedih, tapi aku juga tertawa terpingkal-pingkal sepanjang jongkok merelakan tamu agung yang telah membuat aku sangat repot dan menderita itu. perasaan sangat luar biasa plong,,,tapi celanaku juga gelepotan terkena oli berwarna kuning kecoklat-kecoklatan dan bau itu... Hahahhahahahhahahahhah...hufffffff.....
SIAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAALLLLLLLLLL....!!
:D :) :( :'( :p
INI PENTING,, SUMPAH : Sekedar saran dariku (seseorang yang pernah mengalami hari naas dan memalukan sepanjang hidup), Buanglah hajat sebelum naik BUS, atau naiklah BUS yang menyediakan ruang kusus untuk membuang hajat meski sedang berada di atas Tol. atau lebih baik,, jangan bepergian selagi kamu sedang terkena serangan pecir*t. jika tidak ingin mengalami pengalaman memalukan seprti yang aku alami.hahahahahhaha
tepat di bulan mei 2005
(banten-serang)
Oleh : Doni Asmon