Sabtu, 23 Juli 2011

**HARI YANG SANGAT MEMALUKAN_KU**

        Rasanya semuanya menjadi tak jelas. Mata berkunang-kunang. Nafas seperti sekali dengusan saja yang sesekali singgah tersendat tak beraturan. Energiku habis terkuras demi hanya untuk memfokuskan dan mengerahkan semua tenagaku ke pusat Otot Spinkter Rectum, di kedalaman perutku agar semuanya manjadi terkendali dan tidak membuatku malu dan menjadi bahan tertawaan semua orang di dalam kotak besi berjalan itu hanya karna aku tak kuat menahan SESUATU.
      "Masa iya aku harus e'e di celana?" Bisiku menguatkan hati di tengah kepanikan yang teramat sangat.
      "Dan,,Oouuff...kenapa mobil ini seperti sangat lamban sekali untuk sampai dan masuk keterminal bus kota terdekat?" (padahal saat itu Bus yang ku tumpangi sedang berkecepatan kurang lebih 110km/jam,di atas Tol Jakarta Merak) "Setidaknya agar aku lekas menemukan WC umum, dan aku  bisa untuk segera,,,Heghk,,,segera,,Heeeegggkkk,,"
      Aku gelisah luar biasa. Serba salah malah jadinya. Duduk miring salah, berdiri salah, Jongkok malah tambah salah. Sedikit duduk dengan posisi tertentu agar lobang SAKTI-ku itu sedikit rapat tertutup-pun masih jua tak banyak membantu. Aku bingung, sangat bingung. Wajahku sudah pucat pasi menahan sakit karna mules yang tak kenal kompromi. Keringat dingin sebesar-besar biji jagung-pun sudah mengalir deras dari keningku tiada terbendung.
      "Berapa lama lagi kita akan sampai ke terminal bang?" Tanyaku pada kondektur yang sebentar-sebentar lewat lagi di sampingku. Tapi kali ini dia tidak menghiraukan pertanyaanku lagi yang entah sudah berapa kali ku ulang selalu pertanyaan yang sama itu (Aku yakin dia marah padaku). dan sejujurnya, akupun tidak mengharapakan jawaban dari si abang kondektur tadi karna akupun tau untuk sampai ke terminal terdekat masih membutuhkan waktu sekitar 30 menit lagi. Sebenarnya aku hanya ingin mendapat jawaban pelipur dari si abang  kondektur itu-yang entah kenapa, tiba-tiba melihat wajahnya aku jadi semakin merasa jengkel saja. Itu artinya, masih 30 menit lagi aku harus berjuang mati-matian menahan rasa ingin ITU agar si ANU tidak nylonong keluar seenaknya dan membuat geger seisi Bus antar kota itu karna aroma yang pastinya sangat khas, dan....
        "Ooohhh..Tolong kuatkan-lah imanku ya TUHAN...!"
        "Oouuugghhhhfffff.....!!"
        "Tolong lebih cepat sedikit lagi-lah pak sopir...!"
        "kdfvhakdufadfjdfkdifdsfvadad...!!"
        "Tolong hiburlah aku dengan sekilas cerita-cerita romantis agar aku lupa dengan rasa ingin ANU itu-lah Bang kondektur...!"
        "OuhhgaadfjksdjSkfhizdfjodf/kzdspfiszdofuzpdofizdopfz...!!"
        Mungkin itulah beberapa ratapan sedih-ku di deretan jok agak ke belakang di dalam Bus antar kota, siang itu. Sementara Bus antar kota itu melaju dengan kencang tanpa, ba,,bi,,bu,,ba,,bi,,bu,, sementara itu pula di kursi belakang aku hanya bisa : "Heegkk,,, Eeehhgghh,,  Aaoouuhgg,,, Oouufff,, Oh my good, Aku suadah tidak tahaannn,,Ouuugghhffff,,,, kapan mobil sialan ini akan segera samapaiiii di,,,???..Ceezz,,,uppzz,,,Ohh,,,ada yang terasa mengalir lembut dan basah di celana belakangku.." dan segala daya dan upaya perjuanganku untuk menahan SESUATU ITU agar semuanya tidak menjadi melapetaka yang pasti akan sangat memalukan aku nantinya.

        Tiga puluh menit yang mencekam berselang.
        Waktu yang ku tunggu-tunggu itu akhirnyapun datang. Si abang kondektur yang wajahnya tadi sempat tiba-tiba menjadi menjengkelkan, kini tiba-tiba berubah menjadi dewa pahlawan penyelamat hidupku. Dia (sang pahlawanku), dengan suaranya yang sombreng kaya kaleng, dengan sedikit malas-malasan meneriakan kalimat yang sangat ku nanti-nantikan.
        "Pakupatan habis,,, Pakupatan habiiiis..!"
        "Yaaa,,, yang mau ke serang,,, Banten,, Pande gelang habissss...!"
        "Pakupatan habis,,, Pakupatan habiiiis..!"
        Segera saja aku langsung meringsek maju ke deretan paling depan menerobos bejubelnya penumpang di depan pintu Bus itu tanpa ku hiraukan gerutuan mereka, yang juga sama-sama ingin mendapat posisi pertama untuk turun segera dari mobil itu.
        "Tentunya kalian tidak ingin Bus ini ku buat geger dengan aroma e'e-ku yang tentunya akan berdampak sangat dahsyat, bukan? maka segeralah kalian memberiku prioritas istimewa dangan mempersilahkan aku untuk berdiri di urutan pertama di depan pintu BUs sialan yang lamban ini!"
         Begitulah kalimat pembelaan dalam hatiku yang membuat aku tidak harus ambil pusing dengan gerutuan mereka karna ulah aroganku. Begitu laju mobil melamban dan pintu mobil terbuka, langsung saja aku meloncat turun dan tak ku toleh sedikitpun para calo yang sudah menghadang di depan pintu bus itu demi bisa mendapat satu penumpang.
        "kemana mas?"
        "WC umum..!" Jawabku singkat dan sekenanya setelah satu di antara calo tersebut sempat ada yang menarik tanganku dan menanyakan kemana arah tujuanku.
         WC umum telah ku lihat semenjak aku masih di atas Bus tadi. Tepat di pojok utara di samping masjid terminal pakupatan. Meski tidak berlari, namun juga langkahku tidak bisa di sebut sebagai berjalan. Katakanlah langkahku itu adalah sedikit berlari dan sedikit kencang berjalan. Sulit untuk menentukan langkah yang tepat dalam situasi saat itu. Keadanya memang benar-benar sungguh sulit bagiku. Ingin berlari, tapi takut  bendungan lunak di ujung tulang ekorku menjadi jebol dan memabanjiri selangkanganku. Sementara ingin wajar berjalan, bendungan lunak istimewa-ku itupun tetap semakin kuat tekanannya. Jadi akhirnya, kuputuskan saja yang paling tepat saat itu adalah ; Sedikit berlari dan sedikit kencang berjalan. Meski saat aku melakukan itu, aku harus rela menahan malu karna menjadi perhatian banyak orang sepanjang lorong menuju WC umum, yang merasa heran karna melihatkau berjalan dengan kedua kaki yang sebentar-sebantar ku rapatkan.(mungkin yang ada di benak mereka, aku seperti seorang Model yang sedang berjalan di atas Catwalk, yang sedang memperagakan gaun musim semi. Atau malah aku tak ubahnya seperti seseorang yang sedang terkena penyakit Step. Entahlah). Sungguh menyedihkan.
          Namun, terlepas dari apapun penilaian yang aku dapatkan dari mereka, selangkah demi selangkah susah yang aku lakukan, akhirnya sampai jugalah aku ke depan pintu gerbang bangunan kumuh dan basah itu, yang, bagiku tak ada tempat lain di dunia ini yang ku nginkan selain tempat itu. "INILAH ISTANAKU,," batinku dalam puncak kepuasan dan kebahagiaan..!

WC UMUM TERMINAL PAKUPATAN NAN MANDIRI--->
BUANG AIR KECIL = Rp.1000
BUANG AIR BESAR = Rp.1500

         Ooww,, sederet kalimat mempesona yang ku temukan di depan gerbang masuk WC UMUM itu, dan yang lebih menandakan bahwa aku telah menemukan tempat yang sangat tepat. Tentu saja, Rasa tidak sabar dan rasa bahagiaku semakin memacu cepat langkah kakiku untuk segera menemukan ruangan kecil berukuran 1X2m yang akan menjadi tempat berakhirnya segala penderitaanku.
         Akan tetapi,,,"Oooowww.... tidaaaaakkk..." Rasa kecewa yang teramat sangat langsung mengoyak-ngoyak kebahagiaanku setelah aku mendapati bahwa ruangan berukuran 1x2m itupun telah penuh terisi. AKU HARUS MENGANTRIII..!!!!!!

        "Brengsek,, Damn,, sial,, Ayolaah,, pliiss,,tolong bisa lebih sedikit cepat lagiii,, sumpah saya sudah tidak tahan lagiiiii..."

        Tidak ada jawaban dari seseorang yang ada di dalam bilik WC umum itu.

        "Tolonglah Mas,, Mbak,, Pak,, Buu,, bisa lebih cepat sedikiittt...?!"
         kali ini suaraku sungguh meratap dan memelas, plus dengan sedikit ketukan agak keras di pintu bilik WC umum itu. TIdak ada jawaban dari dalam, tapi justru malah seorang ibu paruh baya yang sedari tadi juga berdiri di sampingku yang menjawab dengan suara yang juga memelas ;
        "Ibu juga sedang mengantri dari tadi Nak..!"
        "Ouuufff,,,Ibu,,,bisa saya dulu yang masuk Buu, saya sudah tidak tahan" ratap iba-ku kepada Ibu itu.
        "Ibu juga sudah tidak tahan Nak..!"
        "Saya yang duluanlah ya Bu,, saya bayarin deh,,ya ya ya ya..!"

        Semakin menjadi saja ratapan memelasku.

        "Tapi tetap harus mengantri Nak..!"
        "akdshfvaidfuadifuadfWFsdfadfaoooofffffff...."

        Amarah dalam hatiku pecah juga akhirnya. Bagaimana tidak ? Mengantri di sebuah loket pembelian tiket bioskop atau tiket pesawat meski semahal apapun  itu, mungkin masih bisa sedikit bersabar dengan bersenandung lirih untuk menghibur diri sendiri agar tidak terpancing emosi. Tapi tidak untuk mengantri di sebuah WC umum yang harga tiketnya hanya seharga seribu atau cengggo. Ini urusan lain dan ini bukan perkara harga. Ini adalah urusan hajat yang bahkan seorang presiden atapaun Pak tukang pulung-pun akan berjuang mati-matian demi untuk mendapat kesempatan pertama agar bisa segera masuk ke dalam Ruangan berukuran 1x2m itu, dan pastinya agar segera lekas berakhir segala penderitaan yang mengoyak di bagian perut bagian bawah kita tersebut. Jadi, siapa yang akan rela mengantri terlalu lama jika si TAMU terhormat kita itu sudah di ujung bendungan yang kian tak terbendung..?

       TAK TIK TUK,,,TAK TIK TUK,,, menyaksikan detik yang mencekam berlalu, detik selanjutnya pintu bilik WC UMUM itupun terbuka dengan malasnya.
      "Krekeetttt..." dan munculah seorang bocah usia belasan tahun yang keluar dengan ekspresi wajah yang lurus-lurus saja tanpa merasa bersalah. Atau, setidaknya, menunjukan sikap TAU bahwa dia sudah di tunggu-tunggu dua orang manusia yang sedari tadi juga sangat menderita karna berjuang ingin mendapatkan tiket pertama setelah dia, untuk segera merdeka dari rasa mules yang meremas perut tiada terkira.
       "Sialan lu bocah,, lama banget lu b-o-k-i-r-nye,, kagak tau Lu, ni bilik juga lagi di antri'in?" Sedikit bentakku kepada anak kecil itu meski Nalarnya (mungkin) belumlah mencapai pamahaman seprti yang ku maksudkan. dan terbukti diapun pergi begitu saja tanpa menghiraukan gerutuku. "Sial..!"
       Sejenak melampiaskan kemarahan-ku kepada bocah belasana itu, yang, akupun menyadari bahwa aku tidak memilki alasan yang kuat untukku melakukan kemarahan itu terhadapnya, pintu bilik WC UMUM itupun terdengar lagi, tapi kali ini dengan suara yang lebih terdengar cepat dan mengesankan keburu-buruan.
     "Kreett,, Brak,, brak,, kresek kresk,,, brooottt,, broboot,, boooott.. Ougghhh.." Si Ibu paruh baya tadi, Si Ibu tadi rupanya diam-diam langsung masuk tanpa permisi dulu kepadaku. Di dalam sana Dia tengah melepas segala derita Cepir*t yang sama-sama kami rasakan tadi semasih mengantri disini bersamaku. dan SUARA Broboott  ITU, Ouuwwhh,, suara itu mengirimkan sugesti tak berbendung yang merangsang Otot Spinkter Rectum-ku menjadi melemah dan mengalami kekacauan untuk mengontrol pintu bendungan lunak di ujung tulang ekorku. Tidaaakkk,,, ada yang semakin basah di belakang celanaku. "Ceezzz,,, cret,,, cret,,..Ceeeezzzz..tidaaaaakkkkk..!!"
      TOK TOk TOK TOK TOK...
      "Bisa tolong cepat sedikit Buu,, saya sudah tidak tahaaann..."
Gedorku mengharap belas kasihan Si Ibu agar Ia mau sedikit berbaik hati membagi sedetik waktu saja untuk memberiku kesempatan untuk ANU..(Tapi mana mungkin..?)
      "Sebentar.." Jawabnya lemah..
Mungkin aku masih bisa bersabar, tapi hanya kuat beberapa detik saja.
       DOR DOR DOR DOR DOR...!!!
      "Buuuu....???"
      "Sebentaaaaaarrrr...!!" Dia mulai terganggu..
Aku makin blingsatan. Berdiri tak bisa tegak. Sedikit nugging dan bersandar di dinding makin merinding.
       "Tolong saya buu...ayo buu..." Ratapanku semakin memalukan..
       BRAAKK...!!
      "Sebentaaaaaaarrr..." Kali ini si Ibupun benar-benar marah atas tindakan tidak sabarku yang sudah mulai mengganggu. Sudah pasti. Salah satu yang paling menjegkelkan di dunia ini ketika kita sedang berkegiatan, adalah saat kita harus di suruh cepat-cepat saat kita tengah berhajat. Tidak juga si Ibu paruh baya yang sedang berada di dalam bilik rebutan kami itu, akupun mungkin malah akan bertindak lebih kejam lagi. (mungkin aku malah akan menyiram seseorang itu yang mengangguku ketika aku sedang berhajat)
        Tapi detik berlanjut,, aku sudah tidak bisa menunggu labih lama lagih. Aku lebih mengencangkan lagi gedoranku di pintu bilik idola itu. AKu sudah tidak peduli tindakanku itu menjadi perhatian orang-orang yang mulai memprhatikanku. dan aku sudah tidak menghiraukan lagi bentakkan-bentakkan Si Ibu dari balik bilik WC UMUM itu. Aku semakin menjadi meratapnya. katakanlah aku sudah mulai memaksa agar Si ibu lekas keluar dan saatnya membiarkan aku masuk ke dalam bilik itu. Ku tempelkan keningku di daun pintu sambil badan sedikit nungging. Kedua kaki kurapatkan serapat-rapatnya agar juga ikut rapat Lobang (Bodoh-ku) itu. Tangan ku gedor-gedorkan di daun pintu sambil terus melolong-lolong meminta Si Ibu untuk segera keluar.
        "Cepetan Ibuuu,,,saya sudah tidak tahaaaaaann..."
        Dor Dor Dor Dor Dor Dor...!!
        "Aduh Buuu...secepetan Buuu...saya mohoooon,,,,"
        Wajahku semakin memucat. Sungguh ini derita di atas deritaku. AKu semakin melolong-lolong memohon kebaikan Si Ibu yang tiba-tiba juga bernasib sama dengan Si Abang Kondektur Bus tadi  ; sama-sama menjadi menjengkelkan.
        "Iyaaaa,,,Iyaaaaaa,, Brengs*kkkkk...!" Kemarahan Si Ibu naas itu akhirnya berbuah amarah dan umpatan yang, saat dalam kondisi normal mungkin tidak akan ku biarkan. Tapi tidak untukku saat dan dalam kondisi seperti saat itu ; bagaimana cara Si Ibu agar lekas keluar dari WC umum itu adalah hal yang terpneting bagiku. maka dari itu, tindakan menggedor-gedor dan meratap di depan pintu itu adalah hal yang paling tepat dan yang harus aku lakukan. dan ternyta benar, meski dengan segunung kejengkelan di hatinya (dan aku sungguh tidak peduli), meski terdengar sayup, dari balik bilik WC umum itu, perlahan-lahan aku mendengar perpaduan suara antara Air dan telapak tangan yang (seprtinya) tengah di bentur-benturkan dengan lembut ke salah satu bagian tubuh Si Ibu sehingga menimbulkan suara yang sangat khas, sangat aku kenali.
         "Piyokk,, piyokk,, piyokk,,piyokk.."  Sangat berirama teratur dan berdurasi tidak terlalu lama, juga tidak sebentar pula. Ini kabar gembira untukku, karna itu tandanya beberapa detik lagi Si Ibu akan segera keluar dan akan segeralah berakhir derita pertahanku menahan serangan Tinja lembek yang sudah semakin kian ke ujung tak terbendung di ambang bendungan-ku. (Sukurlah)

        Demi untuk memastikan, ku ulang lagi gedoran dan ratapanku di daun pintu itu.
       "Buuu,,,secepatann Buuu,,,," Dan,,
        Kreeekeeeeekkk... Keluarlah wajah ramah yang sempat ku ke kenali bebera menit tadi sewaktu kami sama-sama mengantri, tapi saat itu telah berubah menjadi wajah tak bersahabat dan penuh kebencian menatapku.
       "Dasar anak gila tidak tau sopan santun dan aturan" makinya sebelum sempat melangkahkan kakinya di ambang pintu itu. Aku tidak memperdulikan makiannya. AKu langsung saja menorobos masuk sehigga kamipun saling berhimpitan di sempitnya pintu WC umum itu. Melihat aksiku yang kian menggila (baginya), Si Ibu makin teriak-teriak ketakutan.
       "cepetan Ibu keluar, karna saya sudah tidak tahaaaann..."    Prepett...preettt...preeetttt,,,preeeeeeeeeeeeeeeetttttttt,,,brobooot,,,brobooottt...boot,,,bbroooooottttt.....
       "Gila,, gila,, gila,, dasar anak gilaaaaaaaaaa..." teriak si ibu yang sama sekali tidak mengerti betapa aku sudah sangat menderita menahan cepir*t yang sudah kutanggung beberapa jam termulai semenjak aku masih di atas Tol, hingga sampai ke ambang bilik WC umum yang tadi sempat kami perebutkan, yang juga pada akhirnyapun aku harus tetap e'e di celana. Bahkan tepat di satu langkah terakhir aku membuang hajat di tempat yang memang di anjurkan oleh Etika, yaitu ; BERBUANGLAH HAJAT DI TEMPAT YANG SUDAH TERSEDIA KARNA KAMU ADALAH MANUSIA..! Sungguh hari yang menyedihkan..!
     Dan di dalam WC umum itu, aku bingung dengan persaanku sendiri. AKu benar-benar tidak tau apa yang aku rasakan saat itu. mungkin sedih, tapi aku juga tertawa terpingkal-pingkal sepanjang jongkok merelakan tamu agung yang telah membuat aku sangat repot dan menderita itu. perasaan sangat luar biasa plong,,,tapi celanaku juga gelepotan terkena oli berwarna kuning kecoklat-kecoklatan dan bau itu...  Hahahhahahahhahahahhah...hufffffff.....
SIAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAALLLLLLLLLL....!!
:D :)  :(  :'(  :p


INI PENTING,, SUMPAH : Sekedar saran dariku (seseorang yang pernah mengalami hari naas dan memalukan sepanjang hidup), Buanglah hajat sebelum naik BUS, atau naiklah BUS yang menyediakan ruang kusus untuk membuang hajat meski sedang berada di atas Tol. atau lebih baik,, jangan bepergian selagi kamu sedang terkena serangan pecir*t. jika tidak ingin mengalami pengalaman memalukan seprti yang aku alami.hahahahahhaha


tepat di bulan mei 2005
(banten-serang)


Oleh : Doni Asmon

Rabu, 29 Juni 2011

* BUNGA ITU *

Setia pada laju waktu kukira bisa mengubur segala kenangan itu..!!
Mengharap gulir musim menumbuhkan bunga cinta yang lain
Agar kembali tumbuh segala apa yang sempat redup karena kepergianmu..

Pada denyut keyakinan kumelebur semua keraguan
Berharap bisa ku-membahagia bersama DIA yang coba kini ku cinta
Tapi apa nyatanya setelah aku mereguk semua nikmat sentuhan purnama..??
Syahwat berlabel dosa-lah yang aku RASA ternyata..

Kebohongan demi kebohongan belomba isi tiap lembar Diary
Semakin menegaskan saja bahwa engkau masih sangat hidup di fiikiranku
Aku lelah....Aku lelah kau posisikan aku seperti Layang-Layang
Tak iznkan aku untuk pergi
Tidak pula kau menariku untuk kembali...
Apa maumu..??!!

Hari ini egkau datang kembali dengan pesona yang dulu meluluh-kan-ku
Berdiri tepat di ambang pintu yang semula ingin aku kunci
Berdiri begitu anggun dengan setangkau mawar yang dulu sempat
menjadi ungkapan cintamu untuk pertama kali....

Uuuff...Bunga itu.....
Kenapa harus dengan MAWAR  itu, engkau berdiri tepat di depan pintu rumahku..??




(Playboy)



Ruang karya : Wondernet -- bandung

Rabu, 26 Januari 2011

** Aku, Simbok dan Gadis Senja-Ku **

 



       "Tunggu saja saatnya semua akan berubah menjadi ledakan BOM, Doni. BuuuuuMmZzzzz..! dan akan hancurlah semua kebahagiaanmu menjadi butir-butir Air Mata dan tangis meratap seperti kurap."
       Kalimat keras simbok padaku di malam itu, saat aku di sepanjang hari hanya bersikap uring-uringan setelaah hari perjumpaanku dengan Vivie, yang sudah terencana begitu matang, kembali gagal untuk ketiga kalinya.
      "Sadarkah engkau bahwa kekecewaan yang sering kamu alami adalah laju detik BOM waktu yang akan siap meledak dan hancurkan Hatimu suatu hari nanti..?! Sadarkah juga bahwa rasa MENGERTI-mu pAada saatnya akan berbalik arah dan manjadi sikap menuntut-mu tentang sebuah imbal balik satu pengertian pula atas PENGERTIAN yang telah kau berikan terhadapnya..!? Karna engkau memang hanyalah manusia yang sangat biasa sekali. Kamu bukan NABI yang di anugerahi keluasan rasa SABAR yang tidak terpahami oleh akal manusia biasa seperti kamu. Laa kamu ini apa dan siapa..!? Bukankah kamu hanya seorang Doni Asmon yang kere tapi bermata matre too..? Bukankah kamu juga hanya seorang pemimpi Bidadari di atas lembar-lembar Puisi yang sama sekali tidak memiliki arti itu too..?! Kamu jangan terlalu berandai-andai, Donii..! Jangan pula menjadi bulan yang merindukan pungguk. Jangan manjadi pe-manipulasi amarah menjadi kemasan rasa kasih yang akan kau jual di bawah telapak kaki seorang wanita yang kau Puja. Kamu ini Laki-Laki. kamu ini punya harga Diri. Kamu punya amarah dan HAk-mu adalah menunjukan sikap marah saat kamu merasa di kecewakan. Kalau kamu di kecewakan ya marah-lah sesuai dengan alasan yang kamu anggap memang benar untuk marah. Jangan lantas malah menangis.. Katanya Laki-Laki,, Laki-Laki ko nangis..?!! Kamu takut di tinggalkan dia? Haallaaaahhhhh....Kasian sekali kau Playboy..Berlagak menjadi Pria sejati dengan terus mengulang-ulang  kalimat SABAR demi atas Nama Cinta..!! Apakah GADIS SENJA-MU itu pernah peduli dengan rasa kecewa yang kau alami karena perbuatan yang telah dengan tega dia lakukan terhadapmu..?!" 
       Aku tidak bisa menjawab ucapan Simbok yang membuat aku seperti merasa tersudutkan saja. Aku benar-benar hanya bisa diam, dan Simbok-pun ikut diam. Tapi sesungguhnya diamku lebih pada kesebuah pembenaran atas ucapan simbok akan sikapku, yang, suka tidak suka, memang telah bersikap mempermalukan diri sendiri. Sementara diamnya Simbok, aku tidak pernah tahu atau bahkan mungkin aku terlalu takut untuk tahu makna diamnya beliau setelah ucapanya itu. yang aku tahu, selebihnya kami benar-benar hanya di liputi kebisuan yang cukup lama hingga akhirnya Simbok melanjutkan kembali ucapanya. Tapi kali ini dengan nada yang lebih lunak dan membuat aku merasa tidak tertekan.
      "Sadarlah kamu anak Lelaki-ku, sadarlah..!" Suara Simbok yang terdengar sedikit mulai mereda, meski sesungguhnya suara beliau menyiratkan betapa sulitnya Ia mendapatkan kestabilan emosi dalam memilih kalimat yang nantinya akan lebih terkesan ke sebuah nasehat ketimbang menggurui.
      "Sadarlah bahwa kamu hanyalah seorang manusia yang sangat biasa, Yang bisa berbuat sangat buruk, tapi tetap tidak boleh lantas bisa di sebut sebagai Syetan. Bukan juga lantas mendapat sebutan Malaikat meski kamu menjadi manusia paling baik sedunia sekalipun. Kamu ini benar-benar hanya sebatas manusia. Sama seperti Adam yang juga pernah berbuat salah sewaktu masih di Surga sana. Sadarlah juga bahwa kamupun memiliki rasa kepekaan yang mudah terlukai oleh sikap-sikap yang seperti tidak memperdulikan persaanmu, Lee. Kalau memang dia hanya terus melukai hatimu, ya cari yang lain saja. kan banyak teman wanita-wanitamu too? Simbok lihat juga cantik-cantik ko. Apa lagi si siapa itu yang rambutnya ikal sebahu,, yang matanya seperti mirip mata orang Londo itu?" 
       Meski tidak sampai bersuara, tapi aku sempat tertawa dalam hati mendapati pertanyaan itu.
      "Yang itu loo,, yang kamu pernah bilang kalau dia itu cemerlang kaya uang koin limaratusan yang masih baru? Yang makclingkkss itu loo..? Aduhh,, Simbok lupa."
      "Ha ha ha ha.." Kali ini aku benar-benar tertawa mendapati pertanyaan Simbok yang sama sekali tak terduga olehku.
      "Ayu, maksud Simbok..?"
       "Iya,, Ayu, Simbok suka kalau liat gadis itu. Jadi Jangan takut kamu gak laku yo lee. Lihat Diri kamu, kamu ini ganteng dan cukup manis. kamu itu pandai bikin puisi dan Simbok yakin, siapapun wanita itu kalau sudah baca Puisimu pasti akan di buat jatuh hati sama kamu. Jadi jangan khawatir dan jangan takut yo lee,,yo,,yo,,?" 


       Betapa pandainya Beliau menjelma sebagai sosok-sosok yang tepat bagiku, yang memang sangat ku butuhkan untuk situasi dan kondisi batin-ku yang sedang kalut saat itu. Sebagai pengkritik, jelas ucapanya sangat benar dan tajam, dan langsung menusuk ke pusat kesadaranku sebagai Lelaki. Maksudku, LELAKI versi Simbok yang katanya tidak boleh cengeng. LELAKi versi Simbok yang katanya harus menjunjung tinggi harga diri ketimbang meratapi sebuah kekecewaan karena hanya ulah seorang wanita, dan LELAKI versi Simbok yang katanya juga harus bisa berfikir fleksibel dan praktis untuk urusan asmara ; "Kalau memang dia hanya terus melukai hatimu, ya cari yang lain saja..!!" (Ha ha ha,,apa maksud Simbok aku harus benar-benar menjadi seorang Playboy..?" batinku..)
       Akan tetapi, mendapati aku hanya duduk diam dan menunduk saja saat menerima kritik dan protes kerasnya atas sikapku itu, beliau tidak lantas merasa telah menguasai AKU dan bersikap semena-mena dangan terus menyerangku dengan kalimat-kalimat yang, mungkin, akan lebih pedas dan tajam, beliau hadir kembali untuku sebagai sosok yang begitu bersahabat dan penuh suport ; "Lihat Diri kamu, kamu ini ganteng dan cukup manis. kamu itu pandai bikin puisi dan Simbok yakin, siapapun wanita itu kalau sudah baca Puisimu pasti akan di buat jatuh hati sama kamu. Jadi jangan khawatir dan jangan takut yo lee,,yo,,yo,,?" 


       Lihat,, rasanya tidak berlebih jika aku memang harus menyebut simbok, sebagai seseorang yang sangat lihai dalam hadir dan datang sebagai SOSOK yang 'apapun' untuku. Saat aku mulai menyimpang jauh dari sikap yang seharusnya lebih ke me-lelaki, hanya karena aku merasa telah di kecewakan, dengan lantangnya Simbok datang memprotesku dengan guyuran kalimat kritis yang membuat aku tak lebih hanya bisa duduk diam dan menunduk. Namun dalam waktu yang bersamaan itu pula, beliaupun menjelma sebagai sosok motifator yang dengan semua kalimat-kalimatnya mampu menyentuh hati dan mencambuk titik semangatku. Hal ini, Bagiku, sikap Simbok tak ubahnya seperti sebuah dinamika dari gubahan sebuah lagu. Maksudku, beliau tau kapan dia harus datang sebagai pengkritik sekaligus penasehat, dan Dia juga tau kapan Ia harus datang sebagai pe-motifator agar AKU tetap bisa berada dalam jalur keseimbangan NADA  yang semestinya sebagai LAKI-LAKI. Hemmm,,sejenak merenungi itu, membuat aku merasa bahwa sikap uring-uringan-ku itu adalah satu tindakan yang telah sangat salah. Malah jauh lebih mendalam lagi, aku seperti merasa tak lebih hanya seorang pecundang.
     "Sudah,,tidur sana..!" Aku sedikit tersentak mendengar suara lembut Simbok. Rupanya, tanpa sadar, aku sempat terbawa lamunan setelah sejenak tadi merenungi satu pembelajaran yang aku dapat dari semua ucapan beliau tentang bagai mana AKU harus menjadi seorang LAKI-LAKI. 
      "sudah larut malam, Besok kamu kerja dan jangan nangis terus..Cengeng..!! Jangan terlalu di fikirkan Gadis Senja-mu itu. Mau datang atau tidak, mau berbuat apa ke dia disana, pasti dia akan menepati janjinya dan pasti dia akan pandai menjaga diri dengan baik. katanyakan Gadis Senjamu itu wanita terhebat yang kamu milki too..? Makanya jangan Dia kamu khawatirkan  terus kalau memang dia adalah wanita yang hebat...Tapi ngomong-ngomong,,siapa too namanya Gadis Senjamu itu lee..? Simbok jadi penasaran sama dia. Ko bisa ada seorang wanita yang bisa bikin Playboy-nya Simbok jadi kaya gini..? Orangnya cantik ora..? Tinggal di mana dia..? Kapan kamu mau kenalkan sama Simbok..? Hayoo ora usah malu malu..Apa kamu sudah lama kenal sama dia..? Anaknya baik gak..? Terus apa dia itu.......???"
     "Sudah Mbok,, stop,,sudah Sudah. Saya mau tidur. Saya harus istirahat dan saya besok harus  kerja." dan langsung saja aku berdiri dan berjalan masuk kedalam kamar tanpa menghiraukan Simbok lagi yang terus mengikuti aku sampai keambang pintu kamarku sambil tak henti-hentinya menyerangku dengan ribuan pertanyaan.
     "Halaaaahh,,,mau tidur opo mau nagis meneh..? Tapi Kapan kamu akan menikahi Gadis Senja-mu itu Leeeee..?"
          Senyap...!!
          Suara Pertanyaaan terakhir Simbok perlahan hilang di telan keheningan kamarku seiring pintu kamar yang ku tutup rapat-rapat. Dan di atas Ranjang, kembali berulang aku hanya di hinggapi rasa yang sunyi. Rasa sunyi yang memang benar-benar tak bisa kuhindari kendatipun sudah ku renungi pelajaran yang aku dapat dari dialog itu. Hingga larut telah hampir menjelang pagi, hingga tanpa kusadari bahwa aku Benar-benar telah menangis lagi malam ini..!!
        "Gadis Senja itu bernama Vivie Mbok" Bisikku pelan tanpa mengharap Simbok akan mendengarnya atau tidak tentang siapa sebenarnya yang telah menjadikan AKU secengeng ini.


 ####


           Tidak ingin ku mengingat, tapi nyatanya memang dialog malam itu benar-benar tidak bisa untuk kulupakan begitu saja. Yang, jujur telah membuat aku menjadi merasa malu di hadapan simbok ketika beliau mengatakan bahwa aku tidaklah lebih hanya seorang lelaki yang cengeng - Cengeng hanya demi sebuah cinta. "Heemm,,sungguh memalukan..!!"
        Yaa,, aku memang pantas untuk merasa malu. Malu menjadi Lelaki cengeng yang meraung-raung dihadapan Simbok seperti anak kecil, hanya karna meratapi kesedihan sebab kekasih yang ku dambakan tak kunjung jua menemui aku.(Bisik diriku bernada ejekan). Tapi, tunggu dulu,, kenapa aku harus merasa malu menjadi Lelaki cengeng..? (Protes sisi DIRI-ku yang lain, yang kali ini sedikit bernada dalih). Sesuatu yang harus di jadikan alasan untuk merasa malu-kah cengeng itu..? Bukankah rasa CENGENG itu jua adalah salah satu pelengkap kesempurnaan AKU sebagai seorang hamba dan sekaligus sebagai pertanda kelembutan sisi kemanusiaan, karna akupun memanglah seorang MANUSIA..? Lalu akan menjadi seperti apa menjalani hidup jika kerasnya hati tak ubahnya seperti BATU..? Adakah nafas kelembutan di dalam HIDUP itu nantinya..? Akan adakah situasi yang balanced dan selaras jika hati sama sekali tak tersentuh oleh jemari kesedihan lalu menangis..? dan akankah ada jua...?? Bla..Bla..Bla Bla..Blaaa..??..
        Selebihnya,, dalam fikiranku,, perdebatan memang akan berlanjut lebih ke arah yang lebih dalam lagi sampai memasuki ruang dialog panas dalam refresentatif refleksi atas pengetahuan akal dan rasa. dan memang benar,, akan terjadi perdebatan panjang di dalam diriku jika saja AKU membiarkan hal itu terus terjadi dan tidak ada satu sikap yang mungkin akan menjadi satu solusi untuk menengahi. Ini memang bukan hal mudah untuk di pahami, tapi akupun percaya bahwa itupun bukan hal yang sulit untuk aku lakukan. Sebagian DIRI memang membenarkan juga bahwa aku tidaklah pantas menjadikan ke-cengeng-an itu sebagai tempat akhir untuk menumpahkan segala permasalahan karna aku adalah laki-laki. Namun di lain sisi yang lainya juga membenarkan bahwa dengan bersikap cengeng saat merasa sedih, pun bukan sebuah tindakan yang berdosa. Jadi, hal ini memaksa AKU untuk mencoba berdiri di posisi sebagai yang bijak, yang mana aku harus mampu untuk memahami dan mengerti sikap Simbok yang mengatakan aku sebagai Lelaki CENGENG, karna memang simbok tidak mengalami dan tidak merasakan apa yang aku rasakan, dan AKU-pun tidak lantas harus menghujat ke-cengeng-anku itu sebagai sikap yang kurang terpuji hanya karena aku seorang Laki -Laki. Atau setidaknya aku bisa berfikir ; SEORANG RAMBO SAJA MASIH SAH DAN BOLEH UNTUK MENANGIS, KENAPA AKU TIDAK..?" Fikirku. (kali ini nada ucapanku sangat teresan memaksa untuk mendapat sebuah pembenaran atas kecengengan-ku itu.  :D  ) 


        Sekedar tau saja, Aku dan Vivie, adalah dua pelaku cinta jarak jauh. Long distance love. Tidak terlalu menyenangkan memang menjalani percintaan semacam ini. Tapi inilah adanya. Inilah yang sedang kami jalani beberapa bulan terakhir ini. Membelah belantara keraguan untuk mencari dan menemukan satu keyakinan yang nantinya akan membuat kami merasa layak untuk mendapat kebahagiaan dari hubungan jarak jauh tersebut, meski kenyataanya, tak jarang kami menghabiskan sebagian waktu hanya dengan pedebatan dan pertengkaran.
        Ada saja hal-hal kecil yang membuat kami harus bertengkar dan saling diam untuk beberapa hari. Bahkan sesungguhnya hal-hal kecil itu memang benar-benar hanya sebuah HAL KECIL, sangat sepele bahkan. Semisal hanya karena terlambat mengangkat telefon, terlambat SMS beberapa jam, atau saat tak sengaja aku mendengar suara lelaki lain di seberang sana saat aku tengah menelfon Dia. Padahal aku juga tau bahwa suara lelaki - misterius - itu adalah suara Vito, kekasih Megy, adik sepupunya, dan akupun sudah mengenal Megy maupun Vito. Dan jika sudah begini, itu hanya membuat aku teringat kembali akan ucapannya sewaktu pertama kali aku coba untuk mengucap cinta terhadapnya Enam bulan yang lalu.
      "Bagaimana jika ternyata esok kita saling mencinta dan membutuhkan, Vie..?" Tanyaku di selah-selah obrolan dan candaan ringan di malam itu.
      "Ha ha ha,,Tidak mungkin, Doni.. Hal itu tidak akan pernah terjadi.."
      "Why..?"
      "Karena aku memang tidak pernah menginginkan lagi hubungan yang terbentang jarak begitu jauh.." Jawabnya santai namun terkesan tegas.
      "Tidak menginginkan lagi hubungan jarak jauh..? Maksud kamu..?"
      "Yaah,, aku sudah lelah menjadi manusia yang selalu di takdirkan untuk selalu jatuh cinta kepada Lelaki yang berada sangat jauh dari tempat di mana aku tinggal..!" Masih dengan sikap yang santai dan masih dengan kesan yang juga tegas.
      "Oww,,Maksudmu, selama ini kamu tidak pernah memiliki kekasih yang tinggalnya satu kota denganmu..?"
      "Bukan,,tapi lebih tepatnya aku selalu memiliki kekasih yang berada jauh dan tinggal di Pulau yang lain, Doni. Percintaan jarak jauh itu hanya membuat aku seperti menjadi wanita paling menderita, dan aku tidak ingin mengulang lagi percintaan semacam itu bersamamu..!"
        Sejenak aku diam mendengar jawabanya. Merasakan nada tegas di balik sikap tenangnya, Nampaknya, mungkin Dia memang sering menghadapi setuasi semacam ini, sehingga dia seperti sudah terlatih dan mahir untuk menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan semacam itu dari laki-laki seprti aku, yang; Dengan Ba..bi..bu.. Ba..bi..bu-nya,, dan entah dengan alasan apa begitu mudahnya untuk mengucap kalimat cinta.
      "Oke,,oke,, aku paham maksudmu" Jawabku memecah kebisuan.
      "Kamu tidak akan kecewa dan marah padaku bukan ?"
      "Tentu tidak, Vie, aku tidak harus marah dan kecewa kepadamu."
      "Benarkah..?"
      "Yaah,, benar,, aku tidak harus marah dan kecewa, He he he he.."
      Tapi sebenarnya  jawabanku sedikit menyiratkan betapa sulitanya aku mengatur nada kecewa di balik tawa yang sungguh palsu. Aku mengatakan tawa itu palsu karna memang jauh di dasar hatiku seperti ada rasa yang mengiris. Marah,,? mungkin terlalu berlebihan. Namun aku memastikan bahwa ada RASA yang tidak nyaman di hatiku setelah aku mendengar  jawabanya itu. Bagaimana tidak,,? malam itu, pembicaraan itu, adalah waktu yang aku fikir sudah sangat tepat untuk coba memastikan ke arah mana sebenarnya hubungan yang akan terjalin nantinya. Setidaknya, untuk hari kedepanya agar aku tahu harus bagaimana menempatkan Dia sebagai "siapa" di dalam hati dan di hidupku. Dan setelah aku mendapati kenyataan bahwa jawaban-nya tidak sesuai dengan seperti apa yang aku harapakan, suka tidak suka selebihnya aku memang hanya bisa diam. Diam sebagai sikap yang aku pilih untuk kujadikan benteng agar bisa menutupi rasa kecewaku ; katakanlah dia menolaku dan aku kecewa. Dan aku rasapun Dia tahu kekecewaanku itu. Buktinya, mendapati aku langsung diam setelah mendengar jawabanya - yang bagiku lebih ke sebuah penolakan halus dalam kemasan sikap santai-nya, diapun ikut juga diam.
       Cukup lama kami diam. Mungkin sepuluh detik, lima menit, satu jam, atau mungkin akan sepanjang malam..? Entahlah,,, aku tidak tahu pasti. Tapi memang sungguh situasi itu sangat tidak menyenangkan. Kami seperti hanya saling diam dan menunggu. Tapi kami tidak itu tahu menuggu apa. Mungkin kami menunggu agar situasi itu segera lekas berakhir, tapi bagaimana cara mengakhirinya..?
       Menunggu siapa dulu yang akan memulai percakapan dengan topik yang baru agar kebisuan itu lekas berakhir, seakan menjadi Hal yang paling sulit untuk kami lakukan. Hingga pada akhirnya, dengan suara pelan dan lembut, Dia memanggilku.
      "Doni..?"
      "Yaa,,Vie.."
      "Setidaknya kita masih bisa berteman bukan..?" Tanya-nya setelah Dia menyadari bahwa aku seperti tidak ingin memulai percakapan lagi semenjak jawabanya itu.
      "Tidak ada yang akan berubah untuk hari kita selanjutnya, ko, percayalah. Kita masih akan terus berteman. Kita masih akan selalu berbincang, kita masih akan terus saling bercerita dan kita bisa menjadi Sahabat, Kamu tau itu..?"


       Aku tidak menjawab. Mungkin aku memang enggan untuk menjawab*


      "Jarak kita terlampau jauh, itu yang harus kamu mengerti..!"


       *Aku masih tidak menjawab. Mungkin juga karna masih enggan untuk menjawab*

      Mendapati aku hanya diam, rupanya hal itu membuat dia merasa
      "Bagaimana mungkin kita bisa menjalani semua itu nantinya..?!"
      "Tapikan kita belum mencobanya, Vie.." Akhirnya aku menjawab juga setelah aku mendengar nada suaranya yang mulai meninggi pada kalimatnya yang terakhir.
      "Aku tidak ingin mencoba lagi hubungan cemacam itu bersamamu jika nantinya hanya akan membuat kita saling menderita. Bukankah tadi itu sudah ku katakan..?!"
      "Menderita..?! Aku balik bertanya. Kali ini bukan hanya Dia yang memberi penekanan tinggi pada nada suara, akupun melakukan hal itu. "Maksudmu, kamu tidak ingin kita terjalin dalam satu hubungan yang lebih hanya karena kamu takut menderita, Begitukah maksudmu..?!"
      "Iyaaa,, aku tidak ingin menderita lagi. Aku tidak mau lagi menjadi manusia bodoh yang menggantungkan gejolak mencinta pada ribuan kilometer jarak yang nanti hanya akan menjadi masalah besar untuk kita berdua doni, mengertilah..!!"
      "Ha ha ha... Sejak kapan






lapar dan ngantuk...jadi ku tunda dulu... :D




Selasa, 23 November 2010

** RANJANG KESUNYIAN **





Pada kalimat mana bisa kumenitip selembar pesan untukmu
tentang bahasa hati yang terasa makin menjauh dari jangkauan bahasa bibir dan akalku ?!
Selalu berakhir dalam peraduan bisu,
Berlanjut tenggelam oleh Air mata yang kian menggenang di Ranjang pembaringan yang berubah sepi
tanpa keberadaanmu kini.
Mengapa segalanya menjadi berubah ?
Mengapa hasrat yang masih terpendam tidak bisa menjadi alasan untuk engkau tidak tetap ingin pergi dariku ?
Mengapa egkau lakukan semua ini terhadapku, Cinta ?
Mengapa taburan rindu yang tertanam tidak bisa menjadi benih keyakinan untuk sebuah ikrar di hadapan Altar Suci yang akan menyatukan kita nanti ?
Kenapa, Cinta ?!
Kenapa semudah itu engkau pergi menghilang tanpa sanggup untuk ku tahan ?
Tidakkah kau sadari separuh jiwaku terbawa pergi oleh ke-EGO-anmu ?!
Aku terluka, Mom...
Aku terluka dan merana di tengah sebuah Dunia yang tiba-tiba 
berubah kosong tanpa penghuni.
Aku terkapar oleh satu harapan yang mematri jiwaku di dasar apa yang di namakan itu sebuah KESUNYIAN.
Hidupku terasa lunglai.....
Hidupku hanya selangkah ayunan kaki tanpa ku tau kemana aku harus pergi..
Bersembunyi di balik kelambu kegembiraan palsu, 
hingga harus ku telan mentah-mentah semua kepalsuan itu menjadi syair ' Air mata '
kala aku telah berada di Ranjang pembaringan ke-Sendirian-ku..
Berdosakah mencinta itu ?
Berdosakah memperjuangkan hasrat mencinta hingga bisa menjadi sebuah kepemilikkan ?
Aku ingin menjadikan engkau sesuatu kehalallanku, Mom !!
Aku ingin me-niscaya-kan-mu sebagai miliku yang seutuhnya.
Lantas mengapa harus di perdebatkan ?!
Mengapa harus pula mengikut serta sebuah alasan yang hanya berujung pada tebing omosi ?
Ini sungguh sulit untuk kumengerti.
Alasan-mu sungguh tidak masuk akal bagiku.
Berulang-ulang engkau menabur buah mimpi di hatiku,
Mengapa berkali jua Alasanmu selalu membuat berkeping semua mimpi itu menjadi butir kecewa..
 "........ Aku tidak ingin menyakitimu........" 
"........Aku tidak ingin memberimu harapan palsu........"
Selalu kalimat itu menjadi awal termulainya satu perdebatan.. 
Mengapa alasan alasan itu kembali menyusul di antara alasan- alasan-mu yang lain ?
Apanya yang tidak menyakiti aku ?
Yang bagaiman yang tidak memberiku harapan palsu, jika setelah pergi, kembali engkau akan datang menyulam kepingan mimpi itu menjadi senyum harapan di ambang bibirku.
Aku bener-benar tidak mengerti kua posisikan aku sebagai apa
Tak jua kau melepaskan  aku,,
Tak jua pula kau ingin menggapai seluruh kehidupanku.
Apa maksudmu ?
Mengapa engkau bisa melakukan itu ?!
Aku kecewa,,,Aku sungguh kecewa !!
Tidakkah kau sadari itu ?!
Tidakkah kau sadari aku sungguh kecewa karena engkau telah berbuat hal yang mengecawakanku ?!
Apakah engkau memang menghendaki aku untuk pergi ?
Apa yang harus aku lakukan, Mom ?
Jalan mana yang harus ku tempuh di tengah parsiapangan ini ?!
Sekuat hati aku coba membujuk DIRI untuk mempercayai bahwa engkau adalah malaikatku..
Jangan memaksa aku untuk lebih menuruti rasa kecewa ini ketimbang memperjuangkan hasrat mencinta untuk menjadikan-mu satu kepmilik-kan, Cinta.
Jangan memaksa aku.
Sungguh ranjang pembaringan ITU benar-benar telah berubah sunyi tanpa kehadiranmu kini !!
...............??????...............
********* 



Semetinya engkau tau bahwa aku mencintaimu..
Aku mohon kembali,,jangan pernah berfikir untuk kembali pergi !!

KAMU!


(Playboy)

        
Kamar Karya : Wondernet -- Bandung -- Nofember -- 2010

Senin, 18 Oktober 2010

** HUJAN DI SENJA ITU **

Hujan di senja ini membangkitkan kenangan lama tentang dirimu...
Saat menggigilnya tubuh tak jua mampu mengusik kehangatan jiwa kita,
Kala tiap tetes Air hujan yang berjatuhan menjadi irama penuntun
kedua kaki untuk terus menari dan menari....


Tawamu berderai mengguyur kesadaranku..
Di hamparan padang rumput itu,
Di sela gemuruhnya petir dan derai tawamu,
Seolah engkau mengatakan kepadaku bahwa Senja ini hanyalah milik kita berdua..
           ...."Sore ini adalah milik kita, dan hujan ini pun juga milik kita...
          ayolah, genggam tanganku dan leburkan dirimu diharibaan anugerah yang KUASA
          tentang ke-hakiki-an hujan yang kau anggap menakutkan, Jagoan...!!"
          (begitulah kau memanggilku..)



Heemm...aku hanya bisa mengulas senyum mendengar ucapanmu kala itu..
Meresapi kebahagiaan yang terpancar di wajahmu yang kian bergores tawa,
Yang tak kian henti menari mengikuti nyanyian hujan di sore itu.
        ...." Hujan dan sore ini memang benar-benar milik kita, CINTA
         tapi lebih benar-benar hanya milikmu seorang (bisik ku dalam  gumam-an)..!!


Dan kini..setelah ku lalui ribuan hujan yang tak seperti milikmu,
Setelah laju tahun hampir menggilas semua kenangan hangat bersamamu,
Tiba-tiba aku menjadi ingin berada kembali di tengah hamparan padang itu.
Mengukir hangat semua yang telah membeku selepas pergimu,
Dan mengunjungi lagi semua memori tentangmu yang dulu membahagiakan-ku.


Aku merindukanmu, CINTA...
Serindu aku merindukan hujan di  senja itu, yang telah terbingkai rapi dalam
bertahun pengembaraanku yang terasing karena tiada lagi dirimu di sampingku...


Aku benar-benar merindukanmu...
Tahukah Engkau akan hal itu..?!










   Dedicated : Kekasih lamaku
               by : Doni Asmon


Ruang karya : Wondernet ( Bandung )

   

Minggu, 17 Oktober 2010

** POSESSIF **




Nyatanya jua tak kau pahami siapa sesungguhnya Diriku.
Bertahun perelaan waktu untuk meng-ikhlas-kan hati dalam pengabdian
Ternyata hanya kau tanggapi sebatas dangkalnya ucapanmu.

Berkali tak terhitung sikap mengekang dengan 
mengatas namakan cinta kau tanamkan di setiap gerak-ku
menghujam tajam bagai runtuhan batu, mengurung, menindas dan
menimbun kebebasanku dalam rintih ketidak berdayaan

Aku menangis,,,namun tak sedikitpun kau peduli
Kelembutanmu yang dulu ku puja tiba-tiba punah terhanyut amarah.

Dimana arti CINTA-mu ?
Kemana indah makna mencinta yang setia ku dengar di setiap bait cerita tentang CINTA ?
Kemanakah DIRI-mu saat taburan kata CINTA berderas jatuh dari bibirmu ?
Apakah hilang menguap tergusur ke-Ego-an ?
Ataukah aku memang harus menyebutmu sebagai makhluk paling EGO ?
Tidak pernah terfikirkah sikapmu hanya melukaiku ?

      " ..Karena aku mencintaimu.. "
      " ..Karena aku menyayangimu.. "
      " ..Karena aku cemburu dan takut kehilanganmu.. "
Melulu dan selalu alasan itu mengiring setia di balik kekejamanmu !

Kejam...
Aku menyebutmu sebagai makhluk paling kejam
Cintamu cipta penjara sempit untuk ku bercengkrama dengan sahabat.
Sayangmu merampas duniaku sebagai wujud  'AKU'  yang sesungguhnya.
Dan tahukah engkau, cemburu dan rasa takut kehilangan-mu
perlahan pasti buat semua yang menyayangi aku satu persatu menjauh pergi !

Aku tersakiti oleh sikapmu, Cinta.
JIka memang masih pantas kau ku panggil itu !






Dedicated : Edell


(Playboy)                      



Ruang karya -- Wondernet -- Bandung

Sabtu, 16 Oktober 2010

** AKU MULAI MERUINDUKANMU **



Lantas,, bagaimana jika kini segalanya
mulai tumbuh dan berkembang di hatiku ?

Jatuh mengakar tak dapat ku ingkar
bersama kidung Rindu yang perlahan sayup mulai kudengar.

Aku mulai merindukanmu.
Di setiap gulir waktu seakan aku hanya bisa merindukanmu.




Untuk-MU 


(Playboy)

  

Wondernet-bandung