"Tunggu saja saatnya semua akan berubah menjadi ledakan BOM, Doni. BuuuuuMmZzzzz..! dan akan hancurlah semua kebahagiaanmu menjadi butir-butir Air Mata dan tangis meratap seperti kurap."
Kalimat keras simbok padaku di malam itu, saat aku di sepanjang hari hanya bersikap uring-uringan setelaah hari perjumpaanku dengan Vivie, yang sudah terencana begitu matang, kembali gagal untuk ketiga kalinya.
"Sadarkah engkau bahwa kekecewaan yang sering kamu alami adalah laju detik BOM waktu yang akan siap meledak dan hancurkan Hatimu suatu hari nanti..?! Sadarkah juga bahwa rasa MENGERTI-mu pAada saatnya akan berbalik arah dan manjadi sikap menuntut-mu tentang sebuah imbal balik satu pengertian pula atas PENGERTIAN yang telah kau berikan terhadapnya..!? Karna engkau memang hanyalah manusia yang sangat biasa sekali. Kamu bukan NABI yang di anugerahi keluasan rasa SABAR yang tidak terpahami oleh akal manusia biasa seperti kamu. Laa kamu ini apa dan siapa..!? Bukankah kamu hanya seorang Doni Asmon yang kere tapi bermata matre too..? Bukankah kamu juga hanya seorang pemimpi Bidadari di atas lembar-lembar Puisi yang sama sekali tidak memiliki arti itu too..?! Kamu jangan terlalu berandai-andai, Donii..! Jangan pula menjadi bulan yang merindukan pungguk. Jangan manjadi pe-manipulasi amarah menjadi kemasan rasa kasih yang akan kau jual di bawah telapak kaki seorang wanita yang kau Puja. Kamu ini Laki-Laki. kamu ini punya harga Diri. Kamu punya amarah dan HAk-mu adalah menunjukan sikap marah saat kamu merasa di kecewakan. Kalau kamu di kecewakan ya marah-lah sesuai dengan alasan yang kamu anggap memang benar untuk marah. Jangan lantas malah menangis.. Katanya Laki-Laki,, Laki-Laki ko nangis..?!! Kamu takut di tinggalkan dia? Haallaaaahhhhh....Kasian sekali kau Playboy..Berlagak menjadi Pria sejati dengan terus mengulang-ulang kalimat SABAR demi atas Nama Cinta..!! Apakah GADIS SENJA-MU itu pernah peduli dengan rasa kecewa yang kau alami karena perbuatan yang telah dengan tega dia lakukan terhadapmu..?!"
Aku tidak bisa menjawab ucapan Simbok yang membuat aku seperti merasa tersudutkan saja. Aku benar-benar hanya bisa diam, dan Simbok-pun ikut diam. Tapi sesungguhnya diamku lebih pada kesebuah pembenaran atas ucapan simbok akan sikapku, yang, suka tidak suka, memang telah bersikap mempermalukan diri sendiri. Sementara diamnya Simbok, aku tidak pernah tahu atau bahkan mungkin aku terlalu takut untuk tahu makna diamnya beliau setelah ucapanya itu. yang aku tahu, selebihnya kami benar-benar hanya di liputi kebisuan yang cukup lama hingga akhirnya Simbok melanjutkan kembali ucapanya. Tapi kali ini dengan nada yang lebih lunak dan membuat aku merasa tidak tertekan.
"Sadarlah kamu anak Lelaki-ku, sadarlah..!" Suara Simbok yang terdengar sedikit mulai mereda, meski sesungguhnya suara beliau menyiratkan betapa sulitnya Ia mendapatkan kestabilan emosi dalam memilih kalimat yang nantinya akan lebih terkesan ke sebuah nasehat ketimbang menggurui.
"Sadarlah bahwa kamu hanyalah seorang manusia yang sangat biasa, Yang bisa berbuat sangat buruk, tapi tetap tidak boleh lantas bisa di sebut sebagai Syetan. Bukan juga lantas mendapat sebutan Malaikat meski kamu menjadi manusia paling baik sedunia sekalipun. Kamu ini benar-benar hanya sebatas manusia. Sama seperti Adam yang juga pernah berbuat salah sewaktu masih di Surga sana. Sadarlah juga bahwa kamupun memiliki rasa kepekaan yang mudah terlukai oleh sikap-sikap yang seperti tidak memperdulikan persaanmu, Lee. Kalau memang dia hanya terus melukai hatimu, ya cari yang lain saja. kan banyak teman wanita-wanitamu too? Simbok lihat juga cantik-cantik ko. Apa lagi si siapa itu yang rambutnya ikal sebahu,, yang matanya seperti mirip mata orang Londo itu?"
Meski tidak sampai bersuara, tapi aku sempat tertawa dalam hati mendapati pertanyaan itu.
"Yang itu loo,, yang kamu pernah bilang kalau dia itu cemerlang kaya uang koin limaratusan yang masih baru? Yang makclingkkss itu loo..? Aduhh,, Simbok lupa."
"Ha ha ha ha.." Kali ini aku benar-benar tertawa mendapati pertanyaan Simbok yang sama sekali tak terduga olehku.
"Ayu, maksud Simbok..?"
"Sadarlah bahwa kamu hanyalah seorang manusia yang sangat biasa, Yang bisa berbuat sangat buruk, tapi tetap tidak boleh lantas bisa di sebut sebagai Syetan. Bukan juga lantas mendapat sebutan Malaikat meski kamu menjadi manusia paling baik sedunia sekalipun. Kamu ini benar-benar hanya sebatas manusia. Sama seperti Adam yang juga pernah berbuat salah sewaktu masih di Surga sana. Sadarlah juga bahwa kamupun memiliki rasa kepekaan yang mudah terlukai oleh sikap-sikap yang seperti tidak memperdulikan persaanmu, Lee. Kalau memang dia hanya terus melukai hatimu, ya cari yang lain saja. kan banyak teman wanita-wanitamu too? Simbok lihat juga cantik-cantik ko. Apa lagi si siapa itu yang rambutnya ikal sebahu,, yang matanya seperti mirip mata orang Londo itu?"
Meski tidak sampai bersuara, tapi aku sempat tertawa dalam hati mendapati pertanyaan itu.
"Yang itu loo,, yang kamu pernah bilang kalau dia itu cemerlang kaya uang koin limaratusan yang masih baru? Yang makclingkkss itu loo..? Aduhh,, Simbok lupa."
"Ha ha ha ha.." Kali ini aku benar-benar tertawa mendapati pertanyaan Simbok yang sama sekali tak terduga olehku.
"Ayu, maksud Simbok..?"
"Iya,, Ayu, Simbok suka kalau liat gadis itu. Jadi Jangan takut kamu gak laku yo lee. Lihat Diri kamu, kamu ini ganteng dan cukup manis. kamu itu pandai bikin puisi dan Simbok yakin, siapapun wanita itu kalau sudah baca Puisimu pasti akan di buat jatuh hati sama kamu. Jadi jangan khawatir dan jangan takut yo lee,,yo,,yo,,?"
Betapa pandainya Beliau menjelma sebagai sosok-sosok yang tepat bagiku, yang memang sangat ku butuhkan untuk situasi dan kondisi batin-ku yang sedang kalut saat itu. Sebagai pengkritik, jelas ucapanya sangat benar dan tajam, dan langsung menusuk ke pusat kesadaranku sebagai Lelaki. Maksudku, LELAKI versi Simbok yang katanya tidak boleh cengeng. LELAKi versi Simbok yang katanya harus menjunjung tinggi harga diri ketimbang meratapi sebuah kekecewaan karena hanya ulah seorang wanita, dan LELAKI versi Simbok yang katanya juga harus bisa berfikir fleksibel dan praktis untuk urusan asmara ; "Kalau memang dia hanya terus melukai hatimu, ya cari yang lain saja..!!" (Ha ha ha,,apa maksud Simbok aku harus benar-benar menjadi seorang Playboy..?" batinku..)
Akan tetapi, mendapati aku hanya duduk diam dan menunduk saja saat menerima kritik dan protes kerasnya atas sikapku itu, beliau tidak lantas merasa telah menguasai AKU dan bersikap semena-mena dangan terus menyerangku dengan kalimat-kalimat yang, mungkin, akan lebih pedas dan tajam, beliau hadir kembali untuku sebagai sosok yang begitu bersahabat dan penuh suport ; "Lihat Diri kamu, kamu ini ganteng dan cukup manis. kamu itu pandai bikin puisi dan Simbok yakin, siapapun wanita itu kalau sudah baca Puisimu pasti akan di buat jatuh hati sama kamu. Jadi jangan khawatir dan jangan takut yo lee,,yo,,yo,,?"
Lihat,, rasanya tidak berlebih jika aku memang harus menyebut simbok, sebagai seseorang yang sangat lihai dalam hadir dan datang sebagai SOSOK yang 'apapun' untuku. Saat aku mulai menyimpang jauh dari sikap yang seharusnya lebih ke me-lelaki, hanya karena aku merasa telah di kecewakan, dengan lantangnya Simbok datang memprotesku dengan guyuran kalimat kritis yang membuat aku tak lebih hanya bisa duduk diam dan menunduk. Namun dalam waktu yang bersamaan itu pula, beliaupun menjelma sebagai sosok motifator yang dengan semua kalimat-kalimatnya mampu menyentuh hati dan mencambuk titik semangatku. Hal ini, Bagiku, sikap Simbok tak ubahnya seperti sebuah dinamika dari gubahan sebuah lagu. Maksudku, beliau tau kapan dia harus datang sebagai pengkritik sekaligus penasehat, dan Dia juga tau kapan Ia harus datang sebagai pe-motifator agar AKU tetap bisa berada dalam jalur keseimbangan NADA yang semestinya sebagai LAKI-LAKI. Hemmm,,sejenak merenungi itu, membuat aku merasa bahwa sikap uring-uringan-ku itu adalah satu tindakan yang telah sangat salah. Malah jauh lebih mendalam lagi, aku seperti merasa tak lebih hanya seorang pecundang.
Betapa pandainya Beliau menjelma sebagai sosok-sosok yang tepat bagiku, yang memang sangat ku butuhkan untuk situasi dan kondisi batin-ku yang sedang kalut saat itu. Sebagai pengkritik, jelas ucapanya sangat benar dan tajam, dan langsung menusuk ke pusat kesadaranku sebagai Lelaki. Maksudku, LELAKI versi Simbok yang katanya tidak boleh cengeng. LELAKi versi Simbok yang katanya harus menjunjung tinggi harga diri ketimbang meratapi sebuah kekecewaan karena hanya ulah seorang wanita, dan LELAKI versi Simbok yang katanya juga harus bisa berfikir fleksibel dan praktis untuk urusan asmara ; "Kalau memang dia hanya terus melukai hatimu, ya cari yang lain saja..!!" (Ha ha ha,,apa maksud Simbok aku harus benar-benar menjadi seorang Playboy..?" batinku..)
Akan tetapi, mendapati aku hanya duduk diam dan menunduk saja saat menerima kritik dan protes kerasnya atas sikapku itu, beliau tidak lantas merasa telah menguasai AKU dan bersikap semena-mena dangan terus menyerangku dengan kalimat-kalimat yang, mungkin, akan lebih pedas dan tajam, beliau hadir kembali untuku sebagai sosok yang begitu bersahabat dan penuh suport ; "Lihat Diri kamu, kamu ini ganteng dan cukup manis. kamu itu pandai bikin puisi dan Simbok yakin, siapapun wanita itu kalau sudah baca Puisimu pasti akan di buat jatuh hati sama kamu. Jadi jangan khawatir dan jangan takut yo lee,,yo,,yo,,?"
Lihat,, rasanya tidak berlebih jika aku memang harus menyebut simbok, sebagai seseorang yang sangat lihai dalam hadir dan datang sebagai SOSOK yang 'apapun' untuku. Saat aku mulai menyimpang jauh dari sikap yang seharusnya lebih ke me-lelaki, hanya karena aku merasa telah di kecewakan, dengan lantangnya Simbok datang memprotesku dengan guyuran kalimat kritis yang membuat aku tak lebih hanya bisa duduk diam dan menunduk. Namun dalam waktu yang bersamaan itu pula, beliaupun menjelma sebagai sosok motifator yang dengan semua kalimat-kalimatnya mampu menyentuh hati dan mencambuk titik semangatku. Hal ini, Bagiku, sikap Simbok tak ubahnya seperti sebuah dinamika dari gubahan sebuah lagu. Maksudku, beliau tau kapan dia harus datang sebagai pengkritik sekaligus penasehat, dan Dia juga tau kapan Ia harus datang sebagai pe-motifator agar AKU tetap bisa berada dalam jalur keseimbangan NADA yang semestinya sebagai LAKI-LAKI. Hemmm,,sejenak merenungi itu, membuat aku merasa bahwa sikap uring-uringan-ku itu adalah satu tindakan yang telah sangat salah. Malah jauh lebih mendalam lagi, aku seperti merasa tak lebih hanya seorang pecundang.
"Sudah,,tidur sana..!" Aku sedikit tersentak mendengar suara lembut Simbok. Rupanya, tanpa sadar, aku sempat terbawa lamunan setelah sejenak tadi merenungi satu pembelajaran yang aku dapat dari semua ucapan beliau tentang bagai mana AKU harus menjadi seorang LAKI-LAKI.
"sudah larut malam, Besok kamu kerja dan jangan nangis terus..Cengeng..!! Jangan terlalu di fikirkan Gadis Senja-mu itu. Mau datang atau tidak, mau berbuat apa ke dia disana, pasti dia akan menepati janjinya dan pasti dia akan pandai menjaga diri dengan baik. katanyakan Gadis Senjamu itu wanita terhebat yang kamu milki too..? Makanya jangan Dia kamu khawatirkan terus kalau memang dia adalah wanita yang hebat...Tapi ngomong-ngomong,,siapa too namanya Gadis Senjamu itu lee..? Simbok jadi penasaran sama dia. Ko bisa ada seorang wanita yang bisa bikin Playboy-nya Simbok jadi kaya gini..? Orangnya cantik ora..? Tinggal di mana dia..? Kapan kamu mau kenalkan sama Simbok..? Hayoo ora usah malu malu..Apa kamu sudah lama kenal sama dia..? Anaknya baik gak..? Terus apa dia itu.......???"
"sudah larut malam, Besok kamu kerja dan jangan nangis terus..Cengeng..!! Jangan terlalu di fikirkan Gadis Senja-mu itu. Mau datang atau tidak, mau berbuat apa ke dia disana, pasti dia akan menepati janjinya dan pasti dia akan pandai menjaga diri dengan baik. katanyakan Gadis Senjamu itu wanita terhebat yang kamu milki too..? Makanya jangan Dia kamu khawatirkan terus kalau memang dia adalah wanita yang hebat...Tapi ngomong-ngomong,,siapa too namanya Gadis Senjamu itu lee..? Simbok jadi penasaran sama dia. Ko bisa ada seorang wanita yang bisa bikin Playboy-nya Simbok jadi kaya gini..? Orangnya cantik ora..? Tinggal di mana dia..? Kapan kamu mau kenalkan sama Simbok..? Hayoo ora usah malu malu..Apa kamu sudah lama kenal sama dia..? Anaknya baik gak..? Terus apa dia itu.......???"
"Sudah Mbok,, stop,,sudah Sudah. Saya mau tidur. Saya harus istirahat dan saya besok harus kerja." dan langsung saja aku berdiri dan berjalan masuk kedalam kamar tanpa menghiraukan Simbok lagi yang terus mengikuti aku sampai keambang pintu kamarku sambil tak henti-hentinya menyerangku dengan ribuan pertanyaan.
"Halaaaahh,,,mau tidur opo mau nagis meneh..? Tapi Kapan kamu akan menikahi Gadis Senja-mu itu Leeeee..?"
Senyap...!!
Suara Pertanyaaan terakhir Simbok perlahan hilang di telan keheningan kamarku seiring pintu kamar yang ku tutup rapat-rapat. Dan di atas Ranjang, kembali berulang aku hanya di hinggapi rasa yang sunyi. Rasa sunyi yang memang benar-benar tak bisa kuhindari kendatipun sudah ku renungi pelajaran yang aku dapat dari dialog itu. Hingga larut telah hampir menjelang pagi, hingga tanpa kusadari bahwa aku Benar-benar telah menangis lagi malam ini..!!
"Gadis Senja itu bernama Vivie Mbok" Bisikku pelan tanpa mengharap Simbok akan mendengarnya atau tidak tentang siapa sebenarnya yang telah menjadikan AKU secengeng ini.
####
Tidak ingin ku mengingat, tapi nyatanya memang dialog malam itu benar-benar tidak bisa untuk kulupakan begitu saja. Yang, jujur telah membuat aku menjadi merasa malu di hadapan simbok ketika beliau mengatakan bahwa aku tidaklah lebih hanya seorang lelaki yang cengeng - Cengeng hanya demi sebuah cinta. "Heemm,,sungguh memalukan..!!"
Yaa,, aku memang pantas untuk merasa malu. Malu menjadi Lelaki cengeng yang meraung-raung dihadapan Simbok seperti anak kecil, hanya karna meratapi kesedihan sebab kekasih yang ku dambakan tak kunjung jua menemui aku.(Bisik diriku bernada ejekan). Tapi, tunggu dulu,, kenapa aku harus merasa malu menjadi Lelaki cengeng..? (Protes sisi DIRI-ku yang lain, yang kali ini sedikit bernada dalih). Sesuatu yang harus di jadikan alasan untuk merasa malu-kah cengeng itu..? Bukankah rasa CENGENG itu jua adalah salah satu pelengkap kesempurnaan AKU sebagai seorang hamba dan sekaligus sebagai pertanda kelembutan sisi kemanusiaan, karna akupun memanglah seorang MANUSIA..? Lalu akan menjadi seperti apa menjalani hidup jika kerasnya hati tak ubahnya seperti BATU..? Adakah nafas kelembutan di dalam HIDUP itu nantinya..? Akan adakah situasi yang balanced dan selaras jika hati sama sekali tak tersentuh oleh jemari kesedihan lalu menangis..? dan akankah ada jua...?? Bla..Bla..Bla Bla..Blaaa..??..
Selebihnya,, dalam fikiranku,, perdebatan memang akan berlanjut lebih ke arah yang lebih dalam lagi sampai memasuki ruang dialog panas dalam refresentatif refleksi atas pengetahuan akal dan rasa. dan memang benar,, akan terjadi perdebatan panjang di dalam diriku jika saja AKU membiarkan hal itu terus terjadi dan tidak ada satu sikap yang mungkin akan menjadi satu solusi untuk menengahi. Ini memang bukan hal mudah untuk di pahami, tapi akupun percaya bahwa itupun bukan hal yang sulit untuk aku lakukan. Sebagian DIRI memang membenarkan juga bahwa aku tidaklah pantas menjadikan ke-cengeng-an itu sebagai tempat akhir untuk menumpahkan segala permasalahan karna aku adalah laki-laki. Namun di lain sisi yang lainya juga membenarkan bahwa dengan bersikap cengeng saat merasa sedih, pun bukan sebuah tindakan yang berdosa. Jadi, hal ini memaksa AKU untuk mencoba berdiri di posisi sebagai yang bijak, yang mana aku harus mampu untuk memahami dan mengerti sikap Simbok yang mengatakan aku sebagai Lelaki CENGENG, karna memang simbok tidak mengalami dan tidak merasakan apa yang aku rasakan, dan AKU-pun tidak lantas harus menghujat ke-cengeng-anku itu sebagai sikap yang kurang terpuji hanya karena aku seorang Laki -Laki. Atau setidaknya aku bisa berfikir ; SEORANG RAMBO SAJA MASIH SAH DAN BOLEH UNTUK MENANGIS, KENAPA AKU TIDAK..?" Fikirku. (kali ini nada ucapanku sangat teresan memaksa untuk mendapat sebuah pembenaran atas kecengengan-ku itu. :D )
Sekedar tau saja, Aku dan Vivie, adalah dua pelaku cinta jarak jauh. Long distance love. Tidak terlalu menyenangkan memang menjalani percintaan semacam ini. Tapi inilah adanya. Inilah yang sedang kami jalani beberapa bulan terakhir ini. Membelah belantara keraguan untuk mencari dan menemukan satu keyakinan yang nantinya akan membuat kami merasa layak untuk mendapat kebahagiaan dari hubungan jarak jauh tersebut, meski kenyataanya, tak jarang kami menghabiskan sebagian waktu hanya dengan pedebatan dan pertengkaran.
Ada saja hal-hal kecil yang membuat kami harus bertengkar dan saling diam untuk beberapa hari. Bahkan sesungguhnya hal-hal kecil itu memang benar-benar hanya sebuah HAL KECIL, sangat sepele bahkan. Semisal hanya karena terlambat mengangkat telefon, terlambat SMS beberapa jam, atau saat tak sengaja aku mendengar suara lelaki lain di seberang sana saat aku tengah menelfon Dia. Padahal aku juga tau bahwa suara lelaki - misterius - itu adalah suara Vito, kekasih Megy, adik sepupunya, dan akupun sudah mengenal Megy maupun Vito. Dan jika sudah begini, itu hanya membuat aku teringat kembali akan ucapannya sewaktu pertama kali aku coba untuk mengucap cinta terhadapnya Enam bulan yang lalu.
"Bagaimana jika ternyata esok kita saling mencinta dan membutuhkan, Vie..?" Tanyaku di selah-selah obrolan dan candaan ringan di malam itu.
"Ha ha ha,,Tidak mungkin, Doni.. Hal itu tidak akan pernah terjadi.."
"Why..?"
"Karena aku memang tidak pernah menginginkan lagi hubungan yang terbentang jarak begitu jauh.." Jawabnya santai namun terkesan tegas.
"Tidak menginginkan lagi hubungan jarak jauh..? Maksud kamu..?"
"Yaah,, aku sudah lelah menjadi manusia yang selalu di takdirkan untuk selalu jatuh cinta kepada Lelaki yang berada sangat jauh dari tempat di mana aku tinggal..!" Masih dengan sikap yang santai dan masih dengan kesan yang juga tegas.
"Oww,,Maksudmu, selama ini kamu tidak pernah memiliki kekasih yang tinggalnya satu kota denganmu..?"
"Bukan,,tapi lebih tepatnya aku selalu memiliki kekasih yang berada jauh dan tinggal di Pulau yang lain, Doni. Percintaan jarak jauh itu hanya membuat aku seperti menjadi wanita paling menderita, dan aku tidak ingin mengulang lagi percintaan semacam itu bersamamu..!"
Sejenak aku diam mendengar jawabanya. Merasakan nada tegas di balik sikap tenangnya, Nampaknya, mungkin Dia memang sering menghadapi setuasi semacam ini, sehingga dia seperti sudah terlatih dan mahir untuk menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan semacam itu dari laki-laki seprti aku, yang; Dengan Ba..bi..bu.. Ba..bi..bu-nya,, dan entah dengan alasan apa begitu mudahnya untuk mengucap kalimat cinta.
"Oke,,oke,, aku paham maksudmu" Jawabku memecah kebisuan.
"Kamu tidak akan kecewa dan marah padaku bukan ?"
"Tentu tidak, Vie, aku tidak harus marah dan kecewa kepadamu."
"Benarkah..?"
"Yaah,, benar,, aku tidak harus marah dan kecewa, He he he he.."
Tapi sebenarnya jawabanku sedikit menyiratkan betapa sulitanya aku mengatur nada kecewa di balik tawa yang sungguh palsu. Aku mengatakan tawa itu palsu karna memang jauh di dasar hatiku seperti ada rasa yang mengiris. Marah,,? mungkin terlalu berlebihan. Namun aku memastikan bahwa ada RASA yang tidak nyaman di hatiku setelah aku mendengar jawabanya itu. Bagaimana tidak,,? malam itu, pembicaraan itu, adalah waktu yang aku fikir sudah sangat tepat untuk coba memastikan ke arah mana sebenarnya hubungan yang akan terjalin nantinya. Setidaknya, untuk hari kedepanya agar aku tahu harus bagaimana menempatkan Dia sebagai "siapa" di dalam hati dan di hidupku. Dan setelah aku mendapati kenyataan bahwa jawaban-nya tidak sesuai dengan seperti apa yang aku harapakan, suka tidak suka selebihnya aku memang hanya bisa diam. Diam sebagai sikap yang aku pilih untuk kujadikan benteng agar bisa menutupi rasa kecewaku ; katakanlah dia menolaku dan aku kecewa. Dan aku rasapun Dia tahu kekecewaanku itu. Buktinya, mendapati aku langsung diam setelah mendengar jawabanya - yang bagiku lebih ke sebuah penolakan halus dalam kemasan sikap santai-nya, diapun ikut juga diam.
Cukup lama kami diam. Mungkin sepuluh detik, lima menit, satu jam, atau mungkin akan sepanjang malam..? Entahlah,,, aku tidak tahu pasti. Tapi memang sungguh situasi itu sangat tidak menyenangkan. Kami seperti hanya saling diam dan menunggu. Tapi kami tidak itu tahu menuggu apa. Mungkin kami menunggu agar situasi itu segera lekas berakhir, tapi bagaimana cara mengakhirinya..?
Menunggu siapa dulu yang akan memulai percakapan dengan topik yang baru agar kebisuan itu lekas berakhir, seakan menjadi Hal yang paling sulit untuk kami lakukan. Hingga pada akhirnya, dengan suara pelan dan lembut, Dia memanggilku.
"Doni..?"
"Yaa,,Vie.."
"Setidaknya kita masih bisa berteman bukan..?" Tanya-nya setelah Dia menyadari bahwa aku seperti tidak ingin memulai percakapan lagi semenjak jawabanya itu.
"Tidak ada yang akan berubah untuk hari kita selanjutnya, ko, percayalah. Kita masih akan terus berteman. Kita masih akan selalu berbincang, kita masih akan terus saling bercerita dan kita bisa menjadi Sahabat, Kamu tau itu..?"
Aku tidak menjawab. Mungkin aku memang enggan untuk menjawab*
"Jarak kita terlampau jauh, itu yang harus kamu mengerti..!"
*Aku masih tidak menjawab. Mungkin juga karna masih enggan untuk menjawab*
Mendapati aku hanya diam, rupanya hal itu membuat dia merasa
"Bagaimana mungkin kita bisa menjalani semua itu nantinya..?!"
"Tapikan kita belum mencobanya, Vie.." Akhirnya aku menjawab juga setelah aku mendengar nada suaranya yang mulai meninggi pada kalimatnya yang terakhir.
"Aku tidak ingin mencoba lagi hubungan cemacam itu bersamamu jika nantinya hanya akan membuat kita saling menderita. Bukankah tadi itu sudah ku katakan..?!"
"Menderita..?! Aku balik bertanya. Kali ini bukan hanya Dia yang memberi penekanan tinggi pada nada suara, akupun melakukan hal itu. "Maksudmu, kamu tidak ingin kita terjalin dalam satu hubungan yang lebih hanya karena kamu takut menderita, Begitukah maksudmu..?!"
"Iyaaa,, aku tidak ingin menderita lagi. Aku tidak mau lagi menjadi manusia bodoh yang menggantungkan gejolak mencinta pada ribuan kilometer jarak yang nanti hanya akan menjadi masalah besar untuk kita berdua doni, mengertilah..!!"
"Ha ha ha... Sejak kapan
lapar dan ngantuk...jadi ku tunda dulu... :D
Sekedar tau saja, Aku dan Vivie, adalah dua pelaku cinta jarak jauh. Long distance love. Tidak terlalu menyenangkan memang menjalani percintaan semacam ini. Tapi inilah adanya. Inilah yang sedang kami jalani beberapa bulan terakhir ini. Membelah belantara keraguan untuk mencari dan menemukan satu keyakinan yang nantinya akan membuat kami merasa layak untuk mendapat kebahagiaan dari hubungan jarak jauh tersebut, meski kenyataanya, tak jarang kami menghabiskan sebagian waktu hanya dengan pedebatan dan pertengkaran.
Ada saja hal-hal kecil yang membuat kami harus bertengkar dan saling diam untuk beberapa hari. Bahkan sesungguhnya hal-hal kecil itu memang benar-benar hanya sebuah HAL KECIL, sangat sepele bahkan. Semisal hanya karena terlambat mengangkat telefon, terlambat SMS beberapa jam, atau saat tak sengaja aku mendengar suara lelaki lain di seberang sana saat aku tengah menelfon Dia. Padahal aku juga tau bahwa suara lelaki - misterius - itu adalah suara Vito, kekasih Megy, adik sepupunya, dan akupun sudah mengenal Megy maupun Vito. Dan jika sudah begini, itu hanya membuat aku teringat kembali akan ucapannya sewaktu pertama kali aku coba untuk mengucap cinta terhadapnya Enam bulan yang lalu.
"Bagaimana jika ternyata esok kita saling mencinta dan membutuhkan, Vie..?" Tanyaku di selah-selah obrolan dan candaan ringan di malam itu.
"Ha ha ha,,Tidak mungkin, Doni.. Hal itu tidak akan pernah terjadi.."
"Why..?"
"Karena aku memang tidak pernah menginginkan lagi hubungan yang terbentang jarak begitu jauh.." Jawabnya santai namun terkesan tegas.
"Tidak menginginkan lagi hubungan jarak jauh..? Maksud kamu..?"
"Yaah,, aku sudah lelah menjadi manusia yang selalu di takdirkan untuk selalu jatuh cinta kepada Lelaki yang berada sangat jauh dari tempat di mana aku tinggal..!" Masih dengan sikap yang santai dan masih dengan kesan yang juga tegas.
"Oww,,Maksudmu, selama ini kamu tidak pernah memiliki kekasih yang tinggalnya satu kota denganmu..?"
"Bukan,,tapi lebih tepatnya aku selalu memiliki kekasih yang berada jauh dan tinggal di Pulau yang lain, Doni. Percintaan jarak jauh itu hanya membuat aku seperti menjadi wanita paling menderita, dan aku tidak ingin mengulang lagi percintaan semacam itu bersamamu..!"
Sejenak aku diam mendengar jawabanya. Merasakan nada tegas di balik sikap tenangnya, Nampaknya, mungkin Dia memang sering menghadapi setuasi semacam ini, sehingga dia seperti sudah terlatih dan mahir untuk menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan semacam itu dari laki-laki seprti aku, yang; Dengan Ba..bi..bu.. Ba..bi..bu-nya,, dan entah dengan alasan apa begitu mudahnya untuk mengucap kalimat cinta.
"Oke,,oke,, aku paham maksudmu" Jawabku memecah kebisuan.
"Kamu tidak akan kecewa dan marah padaku bukan ?"
"Tentu tidak, Vie, aku tidak harus marah dan kecewa kepadamu."
"Benarkah..?"
"Yaah,, benar,, aku tidak harus marah dan kecewa, He he he he.."
Tapi sebenarnya jawabanku sedikit menyiratkan betapa sulitanya aku mengatur nada kecewa di balik tawa yang sungguh palsu. Aku mengatakan tawa itu palsu karna memang jauh di dasar hatiku seperti ada rasa yang mengiris. Marah,,? mungkin terlalu berlebihan. Namun aku memastikan bahwa ada RASA yang tidak nyaman di hatiku setelah aku mendengar jawabanya itu. Bagaimana tidak,,? malam itu, pembicaraan itu, adalah waktu yang aku fikir sudah sangat tepat untuk coba memastikan ke arah mana sebenarnya hubungan yang akan terjalin nantinya. Setidaknya, untuk hari kedepanya agar aku tahu harus bagaimana menempatkan Dia sebagai "siapa" di dalam hati dan di hidupku. Dan setelah aku mendapati kenyataan bahwa jawaban-nya tidak sesuai dengan seperti apa yang aku harapakan, suka tidak suka selebihnya aku memang hanya bisa diam. Diam sebagai sikap yang aku pilih untuk kujadikan benteng agar bisa menutupi rasa kecewaku ; katakanlah dia menolaku dan aku kecewa. Dan aku rasapun Dia tahu kekecewaanku itu. Buktinya, mendapati aku langsung diam setelah mendengar jawabanya - yang bagiku lebih ke sebuah penolakan halus dalam kemasan sikap santai-nya, diapun ikut juga diam.
Cukup lama kami diam. Mungkin sepuluh detik, lima menit, satu jam, atau mungkin akan sepanjang malam..? Entahlah,,, aku tidak tahu pasti. Tapi memang sungguh situasi itu sangat tidak menyenangkan. Kami seperti hanya saling diam dan menunggu. Tapi kami tidak itu tahu menuggu apa. Mungkin kami menunggu agar situasi itu segera lekas berakhir, tapi bagaimana cara mengakhirinya..?
Menunggu siapa dulu yang akan memulai percakapan dengan topik yang baru agar kebisuan itu lekas berakhir, seakan menjadi Hal yang paling sulit untuk kami lakukan. Hingga pada akhirnya, dengan suara pelan dan lembut, Dia memanggilku.
"Doni..?"
"Yaa,,Vie.."
"Setidaknya kita masih bisa berteman bukan..?" Tanya-nya setelah Dia menyadari bahwa aku seperti tidak ingin memulai percakapan lagi semenjak jawabanya itu.
"Tidak ada yang akan berubah untuk hari kita selanjutnya, ko, percayalah. Kita masih akan terus berteman. Kita masih akan selalu berbincang, kita masih akan terus saling bercerita dan kita bisa menjadi Sahabat, Kamu tau itu..?"
Aku tidak menjawab. Mungkin aku memang enggan untuk menjawab*
"Jarak kita terlampau jauh, itu yang harus kamu mengerti..!"
*Aku masih tidak menjawab. Mungkin juga karna masih enggan untuk menjawab*
Mendapati aku hanya diam, rupanya hal itu membuat dia merasa
"Bagaimana mungkin kita bisa menjalani semua itu nantinya..?!"
"Tapikan kita belum mencobanya, Vie.." Akhirnya aku menjawab juga setelah aku mendengar nada suaranya yang mulai meninggi pada kalimatnya yang terakhir.
"Aku tidak ingin mencoba lagi hubungan cemacam itu bersamamu jika nantinya hanya akan membuat kita saling menderita. Bukankah tadi itu sudah ku katakan..?!"
"Menderita..?! Aku balik bertanya. Kali ini bukan hanya Dia yang memberi penekanan tinggi pada nada suara, akupun melakukan hal itu. "Maksudmu, kamu tidak ingin kita terjalin dalam satu hubungan yang lebih hanya karena kamu takut menderita, Begitukah maksudmu..?!"
"Iyaaa,, aku tidak ingin menderita lagi. Aku tidak mau lagi menjadi manusia bodoh yang menggantungkan gejolak mencinta pada ribuan kilometer jarak yang nanti hanya akan menjadi masalah besar untuk kita berdua doni, mengertilah..!!"
"Ha ha ha... Sejak kapan
lapar dan ngantuk...jadi ku tunda dulu... :D
hmmmmmmmmmmmm manatap cieeenk
BalasHapusoiitt...apa tuh....sana sana sana...anak kecil gak boleh baca tulisan orang dewasa yag sedang di landa cinta....( hik hik hik )
BalasHapustapi klw sudah baca langsung kasih kopi plus rokok sejati si gak papa...hahahha....
ternyata... subhanallah....
BalasHapushahhaa....apa yayukuuu...??
BalasHapus